Bunga Sawo Rontok? Cermati Tiga Faktor Penyebab Bunga Rontok

bunga sawo

Bunga sawo yang layu dan rontok sebelum mekar dan gagal membentuk bakal buah disebabkan oleh faktor fisiologi kimia tanaman, faktor hama penyakit dan/atau faktor fisik (Foto: BATUKITA.com)

BATUKITA, Kota Batu - Tanaman sawo memang bukan tanaman endemik dari Kota Batu. Tetapi di Kota Dingin ini, tanaman sawo tumbuh subur dalam pot. Biasanya dijadikan sebagai tambulapot alias tanaman buah dalam pot.

Ketika berbunga, apalagi bunganya banyak, pemilik pun gembira. Pemilik berharap dalam empat hingga enam bulan ke depan bisa panen sawo dalam jumlah banyak. Tetapi kegembiraan itu berubah kecewa. Ketika dalam seminggu hingga dua minggu kemudian, nyaris semua bunga rontok. Bakal buah pun tak terbentuk. Harapan menikmati buah sawo pun pupus.

Apa sih sebenarnya penyebab bunga rontok alias gagal membentuk bakal buah? Bagaimana cara mengatasinya? Berikut rangkuman BATUKITA.com dari beragam sumber.

Kerontokan bunga atau bakal buah disebabkan oleh tiga faktor. Faktor fisiologi kimia tanaman, faktor hama penyakit dan/atau faktor fisik. Mari kita bahas satu demi satu.

Rontok karena faktor fisiologi kimia.
Pembungaan dan proses pembentukan buah sangat dipengaruhi oleh unsur P (pospat/fosfor) dan unsur K (kalium atau potasium). Gagalnya pembungaan dan pembuahan juga bisa dipicu kelebihan unsur nitrogen (N).

Ir Mul Mulyani Sutedjo dalam Pupuk dan Cara Pemupukan (1999) menegaskan unsur P dan K sangat berperan dalam pembungaan dan pembentukan buah. Bunga yang rontok dan gagal membentuk bakal buah karena tanaman kekurangan unsur P dan K. Sementara penyerapan unsur N yang berlebihan dapat menghambat pembungaan dan pembuahan pada tanaman.

Kandungan P dan K di dalam media tanam sangat kurang sehingga tanaman tidak bisa menyerapnya. Apalagi bila kondisi media tanam kering, maka penyerapan kedua unsur tersebut makin minim. Ingat, tanaman bisa menyerap unsur hara secara optimal ketika kandungan air di media tanam dalam kategori cukup.

Untuk mengatasi kekurangan unsur K dan P, bisa dengan menambahkan pupuk ke dalam media tanam yang mengandung K dan P. Misalnya NPK, KCl atau KNO3. Untuk unsur P bisa dengan bahan organik, kapur Pospat atau Super Pospat. Pemberian pupuk ke dalam tanah secukupnya, jangan berlebihan.

Yang harus dicatat, pemberian pupuk KCL, NPK, atau KNO3 ke dalam media tanam ini tidak berarti bisa berfungsi dalam waktu singkat. Bisa jadi dampaknya terlihat pada masa pembungaan musim berikutnya. Karena unsur yang ditambahkan ke dalam tanah membutuhkan waktu untuk diurai dan diserap oleh tanaman. Untuk itulah, pemupukan lewat media tanam dilakukan dua atau tiga bulan sebelum masa pembungaan.

Bila ingin cepat berdampak, misalnya kepada bunga yang tersisa, bisa dengan mengaplikasikan pupuk daun/buah yang mengandung unsur K dan P. Pupuk daun adalah pupuk yang diaplikasikan dengan cara menyemprotkannya di daun. Daun punya lubang-lubang mikro (lenticell, stomata, trikoma) yang bisa menyerap unsur hara untuk proses fotosintesis. Pupuk daun sering pula disebut pupuk buah.

Pupuk daun ini juga mengandung unsur mikro yang sangat berguna dalam proses pembungaan dan pembentukan bakal buah. Misalnya besi (Fe) dan Boron. Cukup semprotkan sesuai dosis secara rutin, misalnya seminggu sekali, besar kemungkinan sisa bunga atau bakal buah bisa terselamatkan.

Rontok karena serangan hama penyakit 
Banyak kejadian, pembungaan dan pembentukan bakal buah gagal karena serangan hama penyakit tanaman. Hama-hama ini bisa berupa ulat, serangga penghisap cairan, atau kutu pengisap cairan.  Biasanya ketika ada kutu, akan banyak semut berdatangan. Lalu muncul jamur berwarna hitam yang sering disebut embun jelaga.

Bila dibiarkan, serangan hama penyakit itu akan membuat  bunga rontok dan gagal menjadi bakal buah. Kalau toh bisa menjadi bakal buah, bentuknya tidak sempurna karena ada cacat dan kotor.

Untuk mengatasinya, sebaiknya cegah semut naik ke atas pohon dengan mengoleskan zat yang dapat mengusir semut di bagian bawah batang secara melingkar dan merata. Untuk mencegah adanya kutu, ketika tiba awal musim bunga, semprotkan air sabun ke pucuk-pucuk tanaman secara rutin.

Rontok karena faktor fisik
Hujan dan angin menjadi penyebab bunga rontok dan gagal membentuk bakal buah. Terutama hujan yang turun terus menerus dan lebat. Termasuk hembusan angin kencang. Dalam kondisi basah, benangsari (alat kelamin jantan pada bunga) lengket satu sama lain. Sehingga benangsari sulit untuk bisa membuahi kepala putik (alat kelamin betina pada bunga).

Kalau toh bisa, bunga yang berhasil dalam penyerbukan jumlahnya tidak banyak. Sedangkan angin kencang membuat kelopak bunga tercerabut dan patah.

Sedangkan di musim kemarau yang panas dan ekstrim,  bunga juga bisa rontok alias gagal membentuk bakal buah. Sebab benang sari cepat kering dan penyerbukan tidak terjadi. Bisa pula putik mengering sehingga proses persarian yang membutuhkan kondisi kelembaban tertentu tidak terjadi. Bunga pun layu dan rontok. (*)

Editor: Yosi Arbianto