Cabuk Kutu Lalat Putih pada Cabe, Begini Cara Terpadu Mengatasinya

kutu kebul atau cabuk lalat putih
Dewasa Bemisia argentifolii Bellows & Perring atau Bemisia tabaci (Gennadius), strain B. Foto oleh Scott Bauer, USDA. (courtesy entnemdept.ufl.edu for BATUKITA.com)

BATUKITA.COM-Kota Batu - "Terserang cabuk" menjadi istilah umum petani cabai di Jawa Timur ketika tanamannya diserbu hama berwujud organisme seukuran kutu dan bergerombol. Jumlah organisme kecil ini banyak dan menyebar ke sebagian besar tanaman. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah "cabuk" sebenarnya adalah penyakit kulit (di kaki) yang berbau busuk alias penyakit kutu air pada kaki. 

Merujuk kutu air pada kaki inilah, istilah "cabuk" populer di kalangan petani khususnya di Jawa Timur. Yakni untuk mengidentifikasi serangan hama kecil (kutu), bergerombol, yang kadang menyebabkan embun jelaga atau muncul benang-benang putih seperti kapas. Pada cabai, organisme kecil "cabuk" ini sering menyebabkan daun keriting dan nekrosis.

Faktanya, serangan cabuk yang dimaksud oleh petani itu bisa disebabkan serangga kecil yang jenisnya berlainan. Ada lalat putih, trips, apis, Pseudococcidae (kutu putih) atau karena tungau. Manakah yang dominan? 

Tanpa memahami jenis serangganya, maka ujung-ujungnya penyemprotan insektisida yang dikedepankan. Padahal, insektisida adalah racun mematikan yang penggunaannya harus ditempatkan pada urutan terakhir.

Apalagi pada kegiatan urban farming (pertanian urban), penggunaan insektisida harus ditekan seminimal mungkin. Karena pelaku urban farming mengedepankan kesehatan makanan. 

Lebih dari itu, dalam urban farming jumlah tanaman per luasan lahan tidaklah terlalu besar. Cara mekanis, teknis dan biologis bisa diupayakan secara maksimal sebelum mengambil tindakan dengan insektisida kimiawi.

Oke, dalam seri pertama ini, akan dibahas hama "cabuk" lalat putih yang juga disebut kutu kebul. Dibahas pula alternatif cara pengendaliannya yang dikutip dari beragam sumber, salah satunya dari Ir Pracaya dalam Hama dan Penyakit Tanaman (2011).

Lalat Putih atau Kutu Kebul

Lalat putih nama latinnya Bemisia tabaci (Genn.); sinonim: Bemisia gossypiperda, B. longispina, B. goldingi. Hama ini disebut juga lalat putih kapas dan lalat putih tembakau. Lalat putih ini juga merupakan vektor virus mosaik pada tanaman kapas, tembakau, tomat, lombok, buncis. 

Jarak terbang hama Bemisia ini bisa beberapa ratus meter, tetapi ketinggiannya hanya lebih kurang 4 meter. Jika banyak angin, lalat ini bisa tersebar ke mana-mana.

Cabuk lalat putih atau kutu kebul pada daun cabe (Foto: Tita for BATUKITA.com)

Bedakan hama lalat putih Bemisia ini dengan serangga kutu putih famili Pseudococcidae, misalnya Pseudococcus sp. Bedanya misalnya, pada Pseudococcus sp muncul seperti dompolan kapas putih. Biasanya menyerang tanaman buah berkayu atau tanaman perkebunan (pepaya, srikaya, jambu, jeruk, kopi, mangga). 

Gejala Serangan

Lalat putih merupakan hama pengisap daun yang hebat dan vektor virus keriting daun pada tanaman kapas dan ratusan tanaman lainnya. Ia bersifat polifag (menyerang banyak jenis tanaman).  

Tanaman yang telah diisapnya akan kelihatan bercak-bercak klorosis (kuning kecoklatan) pada daunnya. Hal ini akibat kelenjar yang dikeluarkan pada waktu mengisap isi sel. Bercak-bercak klorosis tersebut akan bergabung menjadi satu jika terjadi serangan hebat. 


Dengan demikian, daun menguning tidak teratur dan meluas dari urat-urat daun ke bagian tepi daun. Sisa daun yang masih hijau tinggal sedikit, berupa garis sempit sekitar tulang daun. 

Selanjutnya, daun menjadi kering, warnanya menjadi cokelat muda, dan akhirnya rontok. 

Embun madu yang dikeluarkan hama ini akan menutup daun, mengundang jamur jelaga kehitaman dan menghambat proses pernapasan dan asimilasi.

Penampakan Fisik (Morfologi)

Serangga dewasa panjangnya lebih kurang 1 mm. Jelas sekali warna tubuhnya keputihan sampai kekuningan, tertutup dengan bahan seperti tepung dan bersayap putih. 

Telurnya berbentuk elips dengan panjang sekitar 0,2-0,3 mm. Telur dimasukkan ke dalam jaringan tanaman. Sementara itu, nimfa dan pupanya berwarna putih sampai kekuningan dengan panjang lebih kurang 0,7 mm berbentuk oval dan datar.

Tanaman Inang

Keluarga Malvaceae (rosela, kenaf, kapas), Papilionaceae (kacang tanah, buncis, kapri, kacang babi), Solanaceae (cabai, tembakau, tomat), Convolvulaceae (ubi jalar), Cucurbitaceae (labu siam, mentimun), Euphorbiaceae (singkong). Juga Compositae (bunga matahari, wedusan bandotan, Eupatorium odoratum), Cruciferae (kubis), Myrtaceae (jambu biji), Pedaliaceae (wijen), Verbenacea (jarong), dan banyak lainnya.

Daur Hidup

Telur yang dihasilkan sebanyak 160 butir diletakkan di bawah daun. Umur lalat betina lebih kurang 37-74 hari, sedangkan yang jantan lebih pendek, hanya 9–17 hari.

Musuh Alami

Serangga yang termasuk Hymenoptera (jenis-jenis lebah, semut) menjadi parasit pada lalat putih. Jenis laba-laba kecil yang pakannya lalat putih.

Pengendalian Cabuk Lalat Putih

1. Pengendalian dengan Insektisida Oleander 

Insektisida alami berbahan Oleander (Nerium oleander) atau bunga jepun bisa dicoba. Tinggi tanaman famili Apocynaceae ini 1,5-3 m. Asal tanaman hias berordo Apocynales (Contortae) ini dari Laut Tengah. 

bunga oleander
Bunga oleander (Foto: ist for BATUKITA.com)

Caranya biji oleander yang telah dihancurkan (jadi tepung) direndam dalam air semalaman. Setelah itu, air rendaman disaring dan disemprotkan untuk mengendalikan lalat putih dan hama lainnya. Untuk satu hektar, diperlukan 24,56 kg biji oleander.

2. Pengendalian dengan Insektisida Organik Lainnya

Bahannya lima buah cabai rawit (Capsicum frutescens), tiga buah lemon (Citrus limon) dan dijadikan sari buah. Lalu, satu genggam besar daun gamal (Gliricidia sepium), dan satu umbi bawang merah (Allium cepa var. ascalomicum) ditumbuk halus. Semuanya dicampur lalu direbus bersama. 

Selanjutnya, campuran didiamkan sampai hari berikutnya dan disaring. Tambahkan hasil saringan dengan air sampai menjadi 20 liter. Jika ada lalat putih (Bamisia tabaci), segera disemprot.

Selain bahan di atas, serbuk biji mimba dilaporkan efektif mengendalikan hama kutu kebul berdasarkan penelitian Balitkabi (Balai Penelitian Tanaman Kacang dan Umbi) Malang.

3. Pembuatan Perangkap Kuning. 

Hama lalat putih tertarik dengan warna kuning. Oleh karena itu perangkap dapat dibuat berupa papan atau mika berukuran 20 cm x 35 cm yang dicat warna kuning-oranye, lalu diolesi dengan minyak atau bahan lainnya sebagai perekat. 

perangkap kuning
Perangkap kuning (Foto: independensi for BATUKITA.com)

Perangkap ini bisa dibuat dari mika kuning atau botol bekas yang dicat kuning lalu diberi perekat atau oli. Perangkap kuning sangat efektif jika digantung dalam kotak atau rumah atau latar belakang berwarna hijau. 

4. Menghilangkan Inang Lainnya 

Keberadaan gulma babadotan/wedusan (Ageratum conyzoides) di sekitar pertanaman cabai harus    diwaspadai. Termasuk gulma lainnya. Karena dapat menjadi inang yang baik bagi perkembangan lalat putih (B. tabaci). Sehingga faktor kebersihna lahan terhadap gulma harus diperhatikan.

gulma wedusan atau bandotan
Gulma bandotan atau wedusan (Foto: ist BATUKITA.com)

Ini kesimpulan dari penelitian Vani Nur Oktaviany Subagyo dan Purnama Hidayat (2014) dalam Neraca Kehidupan Kutu Kebul Bemisia tabaci (Gennadius) pada Tanaman Cabai dan Gulma Babadotan pada Suhu 25 °C dan 29 °C.

5. Menggunakan Kelambu

Penggunaan kelambu kain Organdi dengan mesh rapat dan ketinggian 4-5 meter dapat menekan populasi B. tabaci dan intensitas penyakit kerupuk pada tembakau secara signifikan. 

Serangga B. tabaci yang berperan menularkan Begomovirus pada tembakau di lahan PTPN X cenderung berada pada populasi tinggi pada musim tanam tembakau bawah naungan.

kain kaca atau kain organdi
Kain organdi atau kain kaca (Foto: shopee for BATUKITA.com)

Tanaman jagung sebagai barier biologis tidak terlalu berperan dalam menekan peningkatan populasi kutu kebul bila serangan sudah parah. 

Ini berdasarkan penelitian Tri Maruto Aji1, Sedyo Hartono), dan Sri Sulandari dalam Pengelolaan Kutu Kebul (Bemisia tabaci) dengan Sistem Barier pada Tanaman Tembakau (2015).

6. Cukupi Nutrisi Tanaman 

Hal paling penting sebelum pengendalian lain adalah dengan memastikan tanaman dalam kondisi sehat. Yakni memberikan nutrisi makro dan mikro seimbang.  Tanaman yang kelebihan pupuk nitrogen biasanya kurang tahan terhadap serangan hama.

7. Penyemprotan dengan Minyak dalam Butiran Ekstra Halus

Minyak zaitun dilaporkan sangat efektif dalam mengendalikan jumlah lalat putih. Minyak alami lain seperti minyak biji kapas, jarak, kacang tanah, kedelai, dan bunga matahari bisa efektif. Yakni dengan cara disemprotkan dengan butiran ekstra halus.

Minyak kacang tanah paling efektif dari kelompok ini dalam mengurangi populasi. 

Semua minyak ini menyebabkan kematian langsung pada tahap hidup belum dewasa dari kutu kebul jika kontak. Minyak juga mengurangi pengendapan dan ovipositon oleh kutu dewasa saat disemprotkan pada daun tanaman. 

Minyak yang diekstrak dari biji srikaya juga terbukti efektif melawan kutu kebul. Minyak ini menyebabkan nimfa kutu kebul berdaun perak menyusut ukurannya dan karena itu terlepas dari tanaman tomatnya, menyebabkan kelaparan. 

Minyak biji srikaya tidak bersifat fitotoksik pada tanaman tomat dengan konsentrasi apa pun dan mengurangi tingkat kelangsungan hidup hama. 

Demikian dikutip dari  Lin, CY; Wu, DC; Yu, JZ; Chen, BH; Wang, CL; Ko, WH (2009) dalam Pengendalian Whitefly Silverleaf, Cotton Aphid dan Kanzawa Spider Mite dengan Minyak dan Ekstrak Biji Srikaya, Jurnal Entomologi.  

8. Tanaman Perangkap

Pengendalian penting lainnya adalah pemanfaatan tanaman lain sebagai sumber tanaman perangkap. 

Tanaman labu squash dapat bertindak sebagai tanaman perangkap untuk kutu kebul silverleaf karena lalat putih tertarik tanaman ini. 

Lalat putih Silverleaf sebenarnya lebih tertarik pada tanaman squash daripada tanaman tomat. Saat labu berfungsi sebagai tanaman perangkap, virus daun keriting kuning tomat dapat dikendalikan dan dibatasi. 

labu sebagai tanaman perangkap kutu kebul
Tanaman jenis labu bisa dijadikan tanaman perangkap untuk mengeliminasi kutu kebul lalat putih (Foto: ist for BATUKITA.com)

Eksperimen ilmiah menunjukkan di lapangan bahwa menanam tanaman labu squash di sekitar area di mana tanaman tomat dapat ditemukan merupakan manipulasi yang berguna dalam mengatur populasi kutu kebul berdaun perak serta penularan TYLCV. 

Tanaman lain yang bisa dijadikan tanaman perangkap adalah melon dan ketimun. 

Di tanaman perangkap inilah, insektisida bisa diaplikasikan. Sehingga racun tidak terserap di tanaman utama. Cara ini dikutip dari Schuster, D. J. (2004) dalam Squash as a Trap Crop to Protect Tomato from Whitefly-vectored Tomato Yellow Leaf Curl, International Journal of Pest Management.

Demikian sekelumit pembahasan tentang lalat putih dan cara mengatasinya. (bersambung)

Yosi Arbianto