Kurangi Insektisida, Ini Cara dan Trik Atasi Ulat Grayak Bawang Merah

bawang merah kota batu

Ulat grayak atau ulat tentara (army worm) menjadi musuh utama tanaman bawang merah di Torongrejo Kota Batu(Foto: BATUKITA.com)

BATUKITA, Kota Batu - Serangan ulat tentara (army worm) alias ulat grayak (Spodoptera exigua) pada bawang merah menjadi momok utama bagi petani bawang merah. Rata-rata petani masih mengandalkan penyemprotan insektisida untuk menekan serangan ulat grayak bawang merah.

Serangan ulat grayak pada bawang merah membuat daun bawang merah berlubang seperti transparan. Ulat ada di dalam rongga daun (daun bawang merah seperti tabung) dan memakan daun dari dalam. Karena posisi ulat ada di dalam daun, menjadi sebuah kesulitan tersendiri dalam pengendaliannya.

bentuk ulat grayak  dan kerusakan yang ditimbulkan

Wujud dari ulat grayak pada bawang merah, model kerusakan akibat serangan ulat (tengah) dan posisi ulat yang ada di dalam rongga daun bawang merah (Foto: Takatoshi Ueno for BATUKITA.com)

Dengan posisi ulat di dalam daun, penggunaan insektisida kontak (ulat mati setelah tubuh ulat kontak dengan cairan insektisida) kurang efektif. Seringkali insektisida sistemik menjadi pilihan petani. Insektisida sistemik adalah insektisida yang bekerja setelah diserap tanaman. Ulat akan mati setelah memakan bagian daun yang mengandung insektisida.

Sampai kapankah pengendalian dominan insektisida itu akan dilakukan?  Mengingat semakin lama dosis yang digunakan akan semakin meningkat karena ulat kebal terhadap insektisida.

Pengelolaan hama terpadu (PHT) harus menjadi pilihan dan terus digalakkan oleh petani. Menurut Kasumbogo Untung dalam Pengelolaan Hama Terpadu (2006), PHT alias IPM (Integrated Pest Management) adalah perpaduan beragam teknik pengendalian dengan memerhatikan ekosistem, sistem sosial ekonomi dan budaya setempat.

Dalam pelaksanaannya, pengendalian hama tidak hanya mengandalkan satu teknik saja (insektisida). Melainkan kombinasi dari beragam teknik dan trik.

Teknik itu meliputi pengendalian secara fisik, mekanik, secara budidaya, varietas  tahan hama, pengendalian hayati dan pengendalian kimiawi. Boleh jadi ada trik khusus yang dimiliki petani yang bisa diterapkan dalam pengendalian hama, khususnya hama ulat grayak (Spodoptera exigua) pada bawang merah.

Dilansir dari Pracaya dalam Hama dan Penyakit Tanaman (2011) dan beberapa sumber, cara pengendalian ulat grayak pada bawang merah sebagai berikut:

1. Menghindari Tanaman Inang yang Disukai Ulat Grayak 

Tanaman inang lain adalah bawang daun, kucai, jagung, cabai, kapri, kedelai, kacang tanah, kubis, tembakau. Cara menghindari tanaman inang lain ini misalnya tidak menanam tanaman inang itu di dekat areal bawang merah.

2. Jeli Melihat Kelompok Telur Ulat dan Memusnahkannya

Telur ulat grayak berwarna putih dan ditutupi lapisan bulu-bulu tipis. Biasanya diletakkan berkelompok yang berbentuk lonjong atau bulat.

telur ulat grayak

Sekelompok telur ulat grayak yang telah menetas. Telur awalnya  berbentuk bulat atau lonjong yang diselimuti lapisan bulu-bulu tipis Foto: Takatoshi Ueno for BATUKITA.com)


3. Melakukan Pengolahan Tanah yang Membuat Kepompong Ulat Grayak di Dalam Tanah Mati

Misalnya dengan membersihkan lahan dari gulma sebelum penanaman. Atau menjemur tanah di terik matahari. Cara lain adalah merendam tanah dengan air dalam beberapa waktu lalu mengeringkannya. Pemberian kapur tanah juga salah satu cara membunuh kepompong hama yang ada di dalam tanah.

4. Rotasi Tanaman 

Rotasi tanaman selain bawang atau selain tanaman inang lain (bawang daun, kucai, jagung, cabai, kapri, kedelai, kacang tanah, kubis). Misalnya dengan menanam padi.

5. Mengambil Telur dan Ulat lalu Membunuhnya

Secara mekanis dengan mengambil telur atau mengambil dan membunuh ulat yang ada di daun. Biasanya bila ulat sudah masuk dalam rongga daun, pengendalian mekanis dengan cara dipencet daunnya hingga ulat di dalam rongga daun, mati.

6. Membuat Perangkap Ulat

Caranya dengan membuat parit di sepanjang sisi kebun dengan lebar 60 centimeter dan kedalaman 45 centimeter. Parit bisa diisi dengan jerami dan seresah yang mudah dibakar. Pembakaran dilakukan secara periodik.

7. Membuat Perangkap Cahaya (light trap) Mulai Sebelum Penanaman

Perangkap cahaya dengan waktu nyala yang efektif dan efisien pukul 18.00-24.00. Dalam satu hektar dibutuhkan 25-30 unit perangkap lampu.

light trap

Gambar skema perangkap cahaya (light trap) sederhana yang bisa dibuat sendiri oleh petani (Foto: uky edu for BATUKITA.com)

Perangkap cahaya ini efektif untuk menangkap ngengat (mirip kupu-kupu) dari Spodoptera exigua.  Perangkap cahaya terdiri dari lampu dan baskom berisi air sabun. Cara kerjanya, lampu dinyalakan pada malam hari dan ngengat tertarik dengan cahaya lampu. Setelah hinggap pada lampu, ngengat akan kepanasan dan jatuh ke dalam baskom berisi air sabun yang diletakkan di bawah lampu.

8. Membuat Perangkap Feromon Sex (senyawa penarik)

Feromon seks adalah senyawa kimia sintetis sebagai media komunikasi sex antara serangga jantan dan betina. Dalam satu hektar lahan dibutuhkan 12 – 24 buah perangkap feromon.

feromon trap

Perangkap yang menggunakan feromen sex bisa dibuat dengan memanfaatkan botol pasltik bekas(Foto: Daily Starfor BATUKITA.com)

9. Memasang Perangkap Warna Kuning dengan Lem

Serangga tertentu tertarik dengan warna kuning. Perangkap kuning ini biasanya dipakai untuk perangkap lalat buah. Tetapi tidak ada salahnya dicoba untuk perangkap ngegat S.exigua.

10. Menggunakan Kelambu Kasa

Penggunaan kelambu kasa akan mencegah ngengat masuk ke areal tanaman bawang merah. Kelambu kasa dibuat dari bahan khusus yang tahan cuaca dan bisa dipakai hingga 6-8 kali musim tanam.

kelambu untuk bawang merah

Kelambu untuk menutupi areal tanaman bawang merah di wilayah Probolinggo, agar tidak kemasukan ngengat dari luar (Foto: bertanambawangmerahblogspot for BATUKITA.com)

11. Penyemprotan Virus Se-NPV

Pengendalian biologis dengan menyemprotkan virus Se-NPV (Spodoptera exigua-Nuclear Polyhedrosis Virus) pada areal tanaman bawang merah. Virus ini adalah salah satu virus pathogen yang dapat dibuat dari larva S.exigua yang sudah terinveksi oleh Se-NPV.

Cairan virus disemprotkan secara periodik di lahan tanaman bawang merah pada sore hingga petang hari. Virus akan menginfeksi ulat dan membunuh yang ada di areal pertamanan. Virus itu akan menular ke ulat-ulat lainnya. Informasi dan produk virus bisa menghubungi Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi), Jalan Raya Kendalpayak, Pakisaji Kabupaten Malang.

12. Insektisida

Pilihan terakhir adalah menggunakan insektisida bila terjadi serangan hebat dan mengancam produksi secara nyata. (*)

Penulis: Ardi Nugroho
Editor: Yosi Arbianto