Desa Onohondrö, Titik Kecil di Nias Selatan yang Ingin Jadi Desa Wisata

rumah raja terbesar kedua (Omo Sebua) di Nias Selatan

Sebuah rumah raja terbesar kedua (Omo Sebua) di Nias Selatan yang diperkirakan berusia sekitar 400 tahun. (Foto: HIDORA for BATUKITA.com)

BATUKITA.COM-Nias - Desa Onohondrö di Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, membuka diri menjadi desa wisata dan meminta dukungan pemerintah dan semua pihak. Keinginan menjadi desa wisata itu menguat karena keyakinan akan keunggulan budaya dan alam yang menjadi aset potensial wisata pasca pandemi COVID-19.

Desa Onohondrö dibaca: Onohondre, dengan "e" seperti pada "membaca". Desa ini masuk Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara.

Temaziso Hondrö, Kepala Desa Onohondrö menyatakan, listrik baru masuk ke Desa Onohondrö pada 2018. Lalu aksesibilitas jalan ke desa baru dibuat pada 2020.

Kondisi itu menandakan bahwa desa mereka masih asli. Di sisi lain memang ada kurang perhatian dari berbagai pihak dan pemerintah dalam pembangunan di Desa Onohondrö.

Lalu di Desa Onohondrö juga ada rumah adat yang berusia lebih dari 400 tahun. Bangunan rumah adat masih berdiri tegak. Namun  perawatannya membutuhkan perhatian dari pemerintah dan semua pihak.

Desa Onohondrö juga punya air terjun Zumali. Airnya ditampung di semacam telaga. Sehari-harinya warga desa mengambil air di sana untuk air minum.

"Kami sangat mendukung program desa wisata yang akan dilaksanakan di desa kami. Dengan harapan program ini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat desa," ujar Temaziso Hondrö kepada rombongan Drs. Penyabar Nakhe, Ketua DPP HIMNI (Himpunan Masyarakat Nias Indonesia) Bidang Seni Budaya Pariwisata sekaligus anggota Komisi E DPRD Provinsi Sumatera Utara. Rombongan Penyabar Nakhe datang Senin, 22 Februari 2021.

Yohanes Hondrö, selaku tokoh adat setempat menyatakan, pihaknya sangat senang ada pihak luar desa yang mau peduli dengan Desa Onohondrö. Terutama kepedulian akan pelestarian budaya dan alam desa. Mereka telah menunggu lama akan datangnya kepedulian itu.

Menurut Yohanes, nama Desa Onohondrö berasal dari nama bangsawan Nias yang pertama kali membangun rumah adat besar di sana. Sehingga kemudian dijadikan marga Hondrö.

Desa Onohondrö memiliki kekayaan berupa 24 rumah adat, termasuk sebuah rumah raja terbesar kedua (Omo Sebua) di Nias Selatan. Diperkirakan berusia sekitar 400 tahun.

Di dalam rumah raja tersebut masih bisa dijumpai tempat untuk penghakiman bagi warga yang memiliki kesalahan.

Yohanes Hondrö sebagai keturunan langsung marga Hondrö menyatakan, kondisi rumah adat terbesar kedua di Nias Selatan ini butuh perawatan. Masyarakat desa tidak sanggup lagi untuk merawatnya. Karena biaya perawatan yang mahal, dan dana desa pun tidak cukup bila dialokasikan untuk perawatan rumah adat. 
 
rumah adat desa onohondro nias selatan

Desa Onohondrö memiliki kekayaan berupa 24 rumah adat. (Foto: HIDORA for BATUKITA.com)
 
Sedangkan Marthin Luther Dachi, mantan Wakapolres Nias Selatan menyatakan adalah putera daerah Desa Onohondrö.

Marthin menyatakan di desa ini terdapat budaya yang terkenal di masa lampau, yaitu ritual Famadaya Harimao.

Ritual itu berupa simbolis pembersihan (memandikan) replika harimau yang kemudian airnya dibuang di air terjun Zumali.

Upacara ini dilaksanakan setiap 7 tahun sekali. Nenek moyang melakukannya karena dipercaya mencegah penyakit, bala bencana, dan energi-energi negatif.

Marthin Luther Dachi berharap tradisi ritual Famadaya Harimao yang merupakan budaya khas Desa Onohondrö bisa dilestarikan. Sehingga tidak hilang dan terus diingat oleh masyarakat modern.

Drs. Penyabar Nakhe, anggota Komisi E DPRD Provinsi Sumatera Utara menyatakan, Onohondrö memiliki potensi kekayaan budaya. Yakni dengan rumah-rumah adatnya dan wisata alam air terjun yang perlu dijaga serta dikonservasi.

Pihaknya berupaya mengusulkan penganggaran dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengenai perawatan rumah adat yang ada di Desa Onohondrö. Sehingga  peninggalan sejarah dan budaya di Desa Onohondrö tidak hilang.

Dengan potensi budaya yang masih kuat dan kondisi alam yang terjaga, Penyabar Nakhe beritikad mengawal program pengembangan wisata desa ini. Termasuk usulan pembangunan gereja, perbaikan sarana pendidikan, jaringan komunikasi data untuk anak sekolah yang menerapkan sistem daring.

Tri Andri Marjanto, Ketua Perkumpulan HIDORA menyatakan ada potensi budaya yang masih terjaga dan alam yang indah yang dimiliki Desa Onohondrö.

Menurutnya kepariwisataan akan cepat berkembang apabila dikuatkan dengan isu budaya dan isu lingkungan hidup.

Kedua isu ini sangat menarik bagi segmen pariwisata internasional, dan tentunya berpotensi untuk mendapat dukungan dari pemerintah. 
 
penyabar nakhe

Drs. Penyabar Nakhe, anggota Komisi E DPRD Provinsi Sumatera Utara (kiri) bersama Tri Andri Marjanto, Ketua Perkumpulan HIDORA (Foto: HIDORA for BATUKITA.com)

Berdasarkan pengalaman HIDORA dalam mengembangkan berbagai desa wisata di Indonesia, program wisata desa terbukti cukup berhasil untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Termasuk munculnya bisnis turunan desa wisata produk-produk lokal.

Untuk bisa menjadi desa wisata, sangat diperlukan kekompakan antara masyarakat, pemdes, BPD, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. 
 
Baca pula: Jejak Arsitektur Kuno Rumah Adat Nias di Desa Tumori Gunungsitoli

Setelah kekompakan terjalin di desa, maka harus dibangun koneksi, kolaborasi, sinergi dan integrasi antara desa, pemkot/pemkab, pemprov, pemerintah pusat, dan berbagai stakeholder terkait.

Pembentukan desa wisata bisa dilakukan dalam waktu cepat, tetapi tetap membutuhkan waktu 2-3 tahun untuk bisa dirasakan hasilnya berupa peningkatan ekonomi masyarakat desa. (*)

Yosi Arbianto