Gempa Tuban Akibat Patahan Bawean, Pernah Terjadi 1950

patahan atau sesar aktif bawean

Gempa beberapa kali di wilayah perairan Tuban-Bawean-Gresik pada Jumat, 22 Maret 2024, diduga kuat akibat aktivitas patahan aktif (sesar aktif) Bawean. Lingkaran hijau dalam foto menunjukkan letak sesar aktif Bawean. Patahan itu disimbolkan dengan garis merah.  (Foto: Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia  for BATUKITA.com)

BATUKITA.COM-Gresik - Gempa beberapa kali di wilayah perairan Tuban-Bawean-Gresik pada Jumat, 22 Maret 2024, diduga kuat akibat aktivitas patahan aktif (sesar aktif) Bawean.

Gempa pertama terjadi pada pukul 11:22:45 WIB; pusat gempa koordinat 5.74 LS 112.32 BT, kedalaman 10 kilometer dan magnitudo 6.

Gempa kedua terjadi pukul 12:31:12 WIB; koordinat 5.74 LS 112.36 BT; kedalaman 10 kilometer dan magnitudo 5,3.

Gempa ketiga terjadi pukul 15:52:58 WIB; koordinat 5.76 LS 112.33 BT; kedalaman 10 kilometer dan magnitudo 6,5.

Berdasarkan Katalog Gempa Bumi milik Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, gempa di area sekitar itu pernah terjadi pada 19 Juni 1950. Pusat gempa terletak pada koordinat 6,2 LS dan 112,5 BT.
 
Kala itu, gempa dirasakan di Gresik sekitarnya pada skala VII MMI, mengakibatkan beberapa kerusakan di wilayah Gresik dan sekitarnya. Gempa terasa hingga Kalimantan Selatan dan Jawa Barat.

Patahan Bawean (sesar Bawean) atau Bawean Fault bertipe Strike Slip alias patahan geser. Strike-slip Fault (patahan geser) memiliki pergerakan dengan arah horizontal atau mendatar. Lempeng bumi satu bergerak ke kiri, dan/atau satunya ke kanan.

Untuk diketahui, patahan aktif atau sesar aktif berdasarkan pergerakannya, diklasifikasikan menjadi tiga jenis. Yakni Normal Fault (patahan normal: satu lempeng turun), Reverse Fault (patahan naik: satu lempeng naik), dan Strike-Slip Fault (patahan geser: lempeng ke kiri atau ke kanan).


Peneliti Senior Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS Dr. Ir. Amien Widodo, M.Si., membenarkan bahwa gempa perairan Tuban itu akibat aktivitas sesar Bawean.

"Namanya Sesar Bawean, tapi letaknya bukan di Pulau Bawean, tapi di laut dekat Bawean. Cuma dia tidak melewati Baweannya," kata Amien Widodo disadur BatuKita dari detikJatim.

"Itu hanya arahnya di dekat pulau Bawean tadi, arahnya itu di utara-timur, serong gini," imbuh peneliti senior Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS ini.

Ia menjelaskan, pergeseran permukaan pada gempa Tuban terjadi secara horizontal. Sehingga tidak berpotensi tsunami. Namun, gempa ini akan menghasilkan beberapa gempa susulan dengan skala magnitudo yang lebih rendah dari gempa pertama.
 
"Untuk mitigasinya, gempa tersebut perlu dimonitoring guna mengetahui apakah ada tekanan yang masih aktif atau tidak," tutur dosen Departemen Teknik Geofisika ITS itu.
 
Amien mengharapkan masyarakat dapat lebih waspada dengan fenomena gempa yang terjadi karena sesar aktif ini. "Masyarakat perlu menyiapkan diri apabila terjadi gempa-gempa ke depannya," sarannya, via Antara. (#)

Yosi Arbianto