Frugal living adalah memprioritaskan kebutuhan, bukan keinginan semata karena ikut tren atau persepsi orang lain. (Foto: ilustrasi BATUKITA.com)
BATUKITA.COM-Kota Batu - Frugal living atau hidup hemat menjadi pilihan tepat di era modern yang penuh ketidakpastian. Yang perlu dipahami, frugal living bukan tidak mau keluar uang sama sekali.
Frugal living adalah memprioritaskan kebutuhan, bukan keinginan semata karena ikut tren atau persepsi orang lain.
Frugal living juga memprioritaskan tabungan, investasi dan belanja aset. Bukan foya-foya, pemborosan, hedon atau belanja yang bukan kebutuhan.
Untuk keperluan berbagi dengan sesama, penganut frugal living memberikan barang yang menunjang kebutuhan penerima, bukan sebatas memuaskan keinginan.
Untuk memulai gaya hidup hemat atau frugal living, ada beberapa tips yang bisa diikuti. BatuKita merangkumnya dari beragam sumber.
Dengan cara ini, seseorang bisa mengetahui dengan pasti berapa banyak uang yang masuk dan keluar setiap bulan. Termasuk berapa alokasi tabungan dan investasinya.
Misalnya, mengurangi biaya makan di luar karena bukan kebutuhan. Atau menggunakan paket internet yang wajar karena kebutuhan data. Termasuk tidak belanja impulsif. Fokuskan pada kebutuhan dasar dan pertimbangkan pilihan yang lebih hemat.
Penghematan bisa dilakukan dengan mematikan alat listrik yang tidak digunakan, menghindari kebocoran air atau memasak sesuai kebutuhan.
Bila memungkinkan, bangunan rumah didesain agar bisa memanfaatkan sinar matahari untuk penerangan dan penghangat ruangan.
Termasuk merancang sirkulasi udara rumah agar tetap sejuk sehingga mengurangi pemakaian AC.
Ketika belanja kebutuhan dapur, bisa membeli bahan secara grosir untuk dimasukkan ke frezzer.
Bisa lebih hemat lagi bila membuat kebun mini di rumah untuk beberapa jenis tanaman bumbu dapur, sayuran dan buah.
Hindari mengambil hutang untuk hal yang tidak produktif. Mislanya untuk liburan, belanja barang mewah, belanja hiburan, belanja impulsif, hidup hedon.
Misalnya membeli sepatu hiking. Seseorang yang menganut frugal living akan memilih sepatu yang kuat, awet, nyaman meski harganya lebih mahal.
Kalau ada dua sepatu berkualitas sama tetapi merek yang tidak terkenal (atau bahkan tanpa merek) lebih murah, maka dia akan memilih yang tanpa merek itu.
Misalnya, tabungan pensiun, pendidikan anak, atau membeli rumah. Mereka juga bisa membeli tanah atau logam mulia.
Mereka cukup punya kendaraan, peralatan elektronik, furnitur sesuai kebutuhan saja. Bukan karena keinginan atau tren.
Misalnya dengan jalan-jalan di hutan kota, mata air pegunungan, taman-taman kota, pantai atau lokasi-lokasi asri lainnya.
Bila jalan-jalan ke luar negeri, bisa dengan backpacker atau mandiri, tanpa menggunakan jasa tour and travel.
Olahraga juga tidak harus keluar uang banyak. Misalnya dengan memilih olahraga jalan kaki atau lari. Bisa juga berenang. Tentu peralatan seperti sepatu harus nyaman, aman dan awet.
Di Yunani Kuno dulu, konsep hidup sederhana yang hanya mengutamakan kebutuhan pokok sudah diajarkan oleh para filsuf Stoisisme. Mereka menghargai disiplin dan menghindari kemewahan berlebihan.
Pada abad ke-18 dan 19 di Amerika Serikat, gerakan hidup hemat mulai tumbuh dipengaruhi oleh kondisi ekonomi serta tokoh seperti Henry David Thoreau. Dia adalah penulis buku Walden yang mendokumentasikan pengalaman hidup sangat sederhana di sebuah kabin di hutan.
Pada The Great Depression (1929–1939) alias krisis ekonomi hebat di Amerika Serikat, memaksa masyarakat menghargai setiap nilai uang, memangkas pemborosan, dan bertahan hidup dengan sumber daya terbatas.
Frugal living adalah memprioritaskan kebutuhan, bukan keinginan semata karena ikut tren atau persepsi orang lain.
Frugal living juga memprioritaskan tabungan, investasi dan belanja aset. Bukan foya-foya, pemborosan, hedon atau belanja yang bukan kebutuhan.
Untuk keperluan berbagi dengan sesama, penganut frugal living memberikan barang yang menunjang kebutuhan penerima, bukan sebatas memuaskan keinginan.
Untuk memulai gaya hidup hemat atau frugal living, ada beberapa tips yang bisa diikuti. BatuKita merangkumnya dari beragam sumber.
1. Membuat Anggaran Bulanan
Penganut frugal living bisa membuat anggaran bulanan yang rinci untuk mencatat penghasilan dan pengeluaran kebutuhan.Dengan cara ini, seseorang bisa mengetahui dengan pasti berapa banyak uang yang masuk dan keluar setiap bulan. Termasuk berapa alokasi tabungan dan investasinya.
2. Membedakan Kebutuhan dan Keinginan
Ketika berbelanja, seorang penganut frugal living mempertimbangkan apakah barang atau jasa yang diinginkan adalah kebutuhan hidup dan masa depan. Bukan sebatas keinginan sesaat yang bisa ditunda.Misalnya, mengurangi biaya makan di luar karena bukan kebutuhan. Atau menggunakan paket internet yang wajar karena kebutuhan data. Termasuk tidak belanja impulsif. Fokuskan pada kebutuhan dasar dan pertimbangkan pilihan yang lebih hemat.
3. Hemat Air dan Energi
Menghemat pengeluaran rutin air dan energi (listrik, gas) adalah bagian dari frugal living.Penghematan bisa dilakukan dengan mematikan alat listrik yang tidak digunakan, menghindari kebocoran air atau memasak sesuai kebutuhan.
Bila memungkinkan, bangunan rumah didesain agar bisa memanfaatkan sinar matahari untuk penerangan dan penghangat ruangan.
Termasuk merancang sirkulasi udara rumah agar tetap sejuk sehingga mengurangi pemakaian AC.
4. Memasak di Rumah
Memasak makanan di rumah lebih ekonomis dan sehat. Makanan itu bisa untuk bekal bekerja atau anak sekolah.Ketika belanja kebutuhan dapur, bisa membeli bahan secara grosir untuk dimasukkan ke frezzer.
Bisa lebih hemat lagi bila membuat kebun mini di rumah untuk beberapa jenis tanaman bumbu dapur, sayuran dan buah.
5. Menghindari Hutang
Menghindari hutang utamanya hutang konsumtif adalah langkah seseorang yang menjalani frugal living.Hindari mengambil hutang untuk hal yang tidak produktif. Mislanya untuk liburan, belanja barang mewah, belanja hiburan, belanja impulsif, hidup hedon.
6. Mencari Barang Berkualitas, Bukan Merek
Penganut frugal living akan mencari barang yang kualitasnya sepadan dengan harga dan awet. Orang sering mengistilahkan worth atau worth it.Misalnya membeli sepatu hiking. Seseorang yang menganut frugal living akan memilih sepatu yang kuat, awet, nyaman meski harganya lebih mahal.
Kalau ada dua sepatu berkualitas sama tetapi merek yang tidak terkenal (atau bahkan tanpa merek) lebih murah, maka dia akan memilih yang tanpa merek itu.
7. Menabung dan Berinvestasi
Seorang penganut frugal living punya tujuan finansial jangka panjang. Sehingga mereka akan menabung dan berinvestasi.Misalnya, tabungan pensiun, pendidikan anak, atau membeli rumah. Mereka juga bisa membeli tanah atau logam mulia.
Mereka cukup punya kendaraan, peralatan elektronik, furnitur sesuai kebutuhan saja. Bukan karena keinginan atau tren.
8. Rekreasi dan Olahraga Murah
Healing tidak harus mahal. Bisa dengan piknik murah tanpa harus keluar biaya tiket dengan harga selangit.Misalnya dengan jalan-jalan di hutan kota, mata air pegunungan, taman-taman kota, pantai atau lokasi-lokasi asri lainnya.
Bila jalan-jalan ke luar negeri, bisa dengan backpacker atau mandiri, tanpa menggunakan jasa tour and travel.
Olahraga juga tidak harus keluar uang banyak. Misalnya dengan memilih olahraga jalan kaki atau lari. Bisa juga berenang. Tentu peralatan seperti sepatu harus nyaman, aman dan awet.
Sekilas Sejarah Frugal Living
Gaya hidup frugal ini sudah sering dipakai semenjak dahulu, utamanya ketika krisis melanda.Di Yunani Kuno dulu, konsep hidup sederhana yang hanya mengutamakan kebutuhan pokok sudah diajarkan oleh para filsuf Stoisisme. Mereka menghargai disiplin dan menghindari kemewahan berlebihan.
Pada abad ke-18 dan 19 di Amerika Serikat, gerakan hidup hemat mulai tumbuh dipengaruhi oleh kondisi ekonomi serta tokoh seperti Henry David Thoreau. Dia adalah penulis buku Walden yang mendokumentasikan pengalaman hidup sangat sederhana di sebuah kabin di hutan.
Pada The Great Depression (1929–1939) alias krisis ekonomi hebat di Amerika Serikat, memaksa masyarakat menghargai setiap nilai uang, memangkas pemborosan, dan bertahan hidup dengan sumber daya terbatas.
Ahli finansial bernama Vicki Robin dan Joe Domingues, pada 1992 di Amerika Serikat dengan gerakan FIRE (Financial Independence Retire Early).
Gerakan ini populer pada 2007 setelah krisis ekonomi global yang terjadi di Amerika Serikat. Saat itu masyarakat dituntut untuk berhemat.
Pada kondisi pandemi COVID, konsep ini kembali populer secara global sebagai respons ketidakpastian ekonomi, resesi.(#)
John


