Candi Badut Masih Candi Tertua di Jatim

candi badut
Gambar B. De Haan dari Jawatan Purbakala Hindia Belanda yang menjadi acuan rekonstruksi candi Badut pada 1925(Foto: BATUKITA.com).


BATUKITA-Kota Malang - Candi Badut tercatat sebagai candi Hindu tertua di Malang. Bahkan masuk kategori tertua di Jawa Timur. Diperkirakan candi ini sudah ada sekitar abad ke-8 masehi (tahun 700-800 masehi). Perkiraaan penanggalan ini berdasarkan ciri-ciri bangunan dan ornamen candi yang berbeda dengan candi yang dibangun pada abad ke-12 sampai abad ke-14 masehi.

Lokasi candi ini ada di Kelurahan Karangbesuki Kecamatan Sukun Kota Malang, Jawa Timur Indonesia.Situs ini dinamakan Candi Badut karena terletak di Dukuh Badut.

Asal usul istilah Badut didasarkan beberapa pendapat. Setidaknya ada tiga sumber yang bisa menjadi referensi asal mula nama Badut. 

Pertama menurut penduduk setempat, istilah Badut diambil dari nama sejenis pohon nangka yang dahulu pernah tumbuh di daerah ini. Pohon itu salah satunya tumbuh di area candi ketika diketemukan berupa reruntuhan. Dengan demikian candi ini dinamakan Badut sesuai dengan nama pohon Badut yang dahulu tumbuh disini.

Kedua, menurut Prof.  Dr.  R. Ng Poerbatjaraka, nama Badut diambil dari nama raja kerajaan Kanjuruhan yang diduga membangun candi tersebut.

Nama kecil sang raja yaitu Liswa, ketika menjadi raja bergelar Gajayana. Istilah Liswa adalah bahasa Jawa kuno yang artinya sekarang sama dengan pelawak atau bisa juga disebut badut.

Ketiga, menurut Van der Meulen, nama Badut diambil dari nama Rsy Agastya, seorang Rsy yang diagung-agungkan oleh Raja Gajayana.

Istilah Badut diambil dari kata ”Ba” dan ”Dyut”.  Ba berarti Bintang Agastya (Cnopus) dan Dyut berarti sinar/cahaya. Jadi Badyut berarti cahaya bintang Agastya.

Van der Meulen membuat perbandingan dengan penamaan candi Mendut, yang menurutnya berasal dari kata Men=sorot, dan Dyut= Cahaya.

Menurut Monografi Kota Malang (1996), bentuk candi Badut mirip dengan candi-candi di dataran tinggi Dieng, di Gedong Songo lereng Gunung Ungaran. Juga candi Gunung Wukir di daerah Muntilan Jawa Tengah.

Ciri dari semua bangunan itu adalah, kaki candi yang polos, tidak berpelipit atau berhias. Lalu pintu masuknya diberikan hiasan yang berbeda. Yakni kepala Kala yang terdapat di atas bingkai pintu tidak memakai rahang bawah.

Adanya rahang bawah ini berbeda dengan hasil karya candi dan kesenian Hindu abad ke-12 hingga abad ke-14 masehi. Simak saja kepala Kala yang ada di candi Singosari di Singosari, candi Jago di Tumpang dan candi Kidal di Tumpang.

Ciri lainnya, ruangan induk candi Badut berisi sebuah pasangan arca yang tidak nyata dari Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Yakni dalam bentuk lingga dan yoni. Di samping itu, terdapat lima relung yang dahulunya berisi arca. Arca-arca itu telah lenyap.

Pada bagian dinding luar juga terdapat relung-relung yang berisi arca Mahakala dan Nandicwara. Keduanya terletak di kanan-kiri pintu.

Arca Durgamahisasuramardini menempati relung di sebelah utara. Arca Ganesha di relung sebelah timur. Arca Siwa Guru di sebelah selatan. Kecuali arca Durgamahisasuramardini, arca lainnya sudah lama lenyap.

Hiasan di candi Badut kebanyakan bermotif kertas. Selain itu terdapat hiasan sulur-suluran teratai. Satu hal yang menarik dan menjadi ciri khasnya adalah pipi tangga dihias dengan motif burung Kinara. Yakni makhluk surga yang berbadan burung dan berkepala manusia, bertugas memainkan musik di kahyangan.

Candi Badut ditemukan dalam keadaan runtuh, rata dengan tanah pada 1921. Orang pertama yang mengabarkan keberadaan candi Badut adalah kontrolir Belanda bernama Mauren Brecher. Ia bekerja pada Pamongpraja Malang.

Setelah ditemukan, candi Badut dibangun kembali pada 1925 sampai dengan 1927 oleh Belanda. B. De Haan dari Jawatan Purbakala Hindia Belanda yang diberi tugas untuk mengawasi rekonstruksi candi Badut. (*)


Penulis: Jon Torrio