Hujan 2021, Potensi Longsor Kota Batu 10 Ribu Hektar

potensi longsor kota batu

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menganalisa 10.939 hektar kawasan di Kota Batu rawan longsor.  Zona rawan longsor itu menyebar di tiga kecamatan (Bumiaji, Batu, Junrejo). (Foto: tangkapan layar BNPB for BATUKITA.com)

BATUKITA.COM-Kota Batu - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Karangploso, Malang memperkirakan musim hujan di Jawa Timur 2021 terjadi pada awal Oktober dan November. 

Kepala Stasiun Klimatologi Karangploso Malang, Anung Suprayitno pada Kamis, 2 September 2021 lalu menjelaskan 46,7 persen ZOM (Zona Musim) wilayah di Jawa Timur memasuki musim hujan pada Oktober 2021. Ini terjadi untuk wilayah selatan dan tengah.

Sementara 48,3 persen wilayah Jawa Timur memasuki musim hujan pada bulan November. Khususnya wilayah utara dan daerah tapal kuda (Misalnya Pasuruan, Situbondo, Bondowoso).

Untuk curah hujan 2021-2022, Anung memperkirakan normal hingga atas normal, bila dibanding tahun sebelumnya. "Curah hujan sebagian besar wilayah Jatim 1000-2000 mm," jelasnya. 

Meski curah hujan normal, BMKG berpesan perlu mewaspadai cuaca ekstrem pada peralihan musim hingga awal musim hujan 2021-2022. Karena  berpotensi menimbulkan banjir bandang, longsor, karena sedimentasi dan kesiapan struktur bangunan dan jaringan air. 

Di kesempatan lain, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, Agung Sedayu merilis 12 September 2021 bahwa pihaknya mempersiapkan diri dengan menambah pemasangan peralatan Early Warning System (EWS).

Peralatan sistem pendeteksian dini tanah longsor rencananya disebar di lima titik. Yakni di Desa Gunungsari sebanyak tiga unit, Desa Punten satu unit, dan Desa Sumber Brantas satu unit. Semuanya di Kecamatan Bumiaji.

Bila pemasangan itu terealisasi, maka total EWS ada 10 titik. Saat ini BPBD Kota Batu sudah memiliki EWS di lima titik lainnya.

Lima titik yang telah terpasang EWS adalah Desa Gunungsari sebanyak dua unit. Lalu masing-masing satu titik di Desa Tulungrejo, Desa Sumberejo, dan Desa Sumber Brantas.

Sistem EWS itu akan memberitahu dengan mengirim sinyal bunyi ketika ada pergerakan tanah di sekitar lokasi EWS. Dengan begitu, tim BPBD bisa bergerak lebih cepat dan bisa memberikan peringatan kepada masyarakat setempat.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menganalisa ada 10.939 hektar kawasan di Kota Batu yang rawan longsor.  Zona rawan longsor itu menyebar di tiga kecamatan (Bumiaji, Batu, Junrejo).


Potensi longsor terbesar ada di Kecamatan Bumiaji (7.840 hektar), lalu di Kecamatan Batu (2.359 hektar) dan di Junrejo (740 hektar). (*)

Yosi Arbianto