Rani Jambak dan Rangga Purnama di Konser OneBeat

rani jambak victor angeleas

Rani Jambak berkolaborasi bersama Victor Angeleas, pemain mandolin dari kota Brasilia, Brazil, dengan karya berjudul "Distortion Journey”. (Foto: for BATUKITA.com)

BATUKITA.COM-Kota Batu - Rani Jambak dan Rangga Purnama Aji dari Indonesia terpilih dalam program kolaborasi dan pertukaran budaya global OneBeat.

Rani Jambak adalah komposer, produser dan vokalis yang berbasis di Medan. Sedangkan Rangga Purnama Aji adalah komposer, produser, dan seniman video dari Jogja.

Program OneBeat adalah prakarsa pertukaran budaya melalui residensi musik (sejenis konser) dan menjadi bagian dari diplomasi budaya. Program ini didanai Biro Pendidikan dan Kebudayaan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, yang diproduksi oleh Bang on a Can's Found Sound Nation.

Kegiatan ini mempertemukan beragam talenta musisi muda berbakat dari berbagai penjuru dunia dalam sebuah program kolaborasi residensi (sejenis konser).

Sebelum era pandemi, sejak 10 tahun yang lalu OneBeat dicetuskan, biasanya OneBeat dilaksanakan “secara fisik” di New York, Amerika Serikat.


Peserta dari seluruh dunia yang lolos seleksi akan diundang ke New York selama satu bulan, untuk berproses bersama, bertukar ide dan gagasan. Lalu berkolaborasi untuk menghasilkan karya-karya dalam koridor besar tematik tertentu.

Tahun 2021 ini, karena kondisi pandemi, maka OneBeat dilaksanakan dalam platform virtual, dan dilakukan dalam dua sesi.  

Sesi pertama, terdapat  35 musisi muda inovatif dari 17 negara yang terlibat dalam kegiatan residensi virtual, dari 12 Juli - 6 September 2021.

Selama 7 minggu, para musisi itu secara virtual bertemu, berdiskusi, bekerja, dan berkolaborasi secara online. Mereka berproses bersama merealisasikan tema program tahun ini dalam karya-karya mereka.  

Untuk sesi pertama OneBeat ini, musisi muda berbakat Indonesia yang lolos seleksi adalah Rani Jambak dari Medan, dan Rangga Purnama Aji dari Jogja.

Tahun ini OneBeat mengangkat isu kondisi dunia yang berduka akibat pandemi, perawatan, dan penyembuhan melalui musik, serta bagaimana dunia bisa terus menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan berbagai kenyataan yang berubah dengan cepat.

Musik dan suara dianggap sebagai salah satu jalan mendorong terbangunnya mode saling terkoneksi. Juga untuk menjalin hubungan dengan orang lain, sebagai tindakan penyembuhan kolektif dan pribadi.

Menurut Rani Jambak, dalam program residensi ini ada berbagai program yang harus ditempuh peserta. Antara lain latihan-latihan untuk merangsang kreativitias.

Wujudnya berupa meditasi, zumba, sound healing, sound painting, master class dari berbagai musisi. Lalu proses kolaborasi, penyampaian ide, yang selama 2 bulan proses ini dilakukan dengan sangat intens.

Semua peserta diajak untuk bisa berpikir bersama, untuk menggali kira-kira apa yang bisa dilakukan dalam aktivitas proses kreatif berkesenian mereka guna berpartisipasi dalam isu besar yang diangkat.

Puncak acara One Beat Virtual Residency digelar Kamis-Sabtu, 2-4 September 2021. Dalam puncak acara dilaksanakan serangkaian acara bertitel "OneBeat Virtual Concert". Tema yang diambil "Scores for Uncertain Time".

Rangkaian Kegiatan

Rangkaian kegiatan yaitu: OneBeat Marathon Virtual Concert pada 2 September 2021. Di sini ada penampilan  35 orang musisi dari 17 negara.

Mereka menyuguhkan pertunjukan musik kolaborasi yang dilaksanakan dari jam 10.00-14.00 (waktu Amerika Serikat) atau mulai jam 21.00 WIB (Kamis, 2 September 2021) sampai jam 01.00 WIB (Jumat, 3 September 2021 dini hari).

Dalam sesi ini, Rani Jambak berkolaborasi bersama Victor Angeleas, pemain mandolin dari kota Brasilia, Brazil, dengan karya berjudul "Distortion Journey”.

Victor adalah lulusan jurusan musik University of Brasilia. Ia adalah multi-instrumentalis, komposer, dan produser yang banyak memenangkan penghargaan.

Ia menjabat sebagai profesor di Music School of Brasilia, salah satu lembaga pendidikan musik publik terbesar di Amerika Latin.


Distortion Journey merupakan hasil diskusi panjang Rani Jambak dan Victor Angeleas selama hampir dua bulan.

Komposisi ini menggambarkan bagaimana sebuah perjalanan kehidupan yang terdistorsi oleh kondisi pandemi.

Mereka berbicara mengenai bagaimana “membuat ritual” penyembuhan diri, agar lebih bahagia, dan lebih banyak cinta.

Mereka menemukan bahwa lawan kata dari “cinta” itu ternyata bukan “benci”, melainkan “ketakutan”. Ketakutan membuat manusia tidak bisa merasakan keindahan.

Konsep karya mereka adalah menyimpulkan dari semua hasil diskusi panjang mereka dalam bentuk musik yang menjadi proses “healing”.

Proses healing membangkitkan memori-memori yang baik dan buruk. Merangkai pengalaman-pengalaman personal dari apa yang dihirup, dicium, didengar, dilihat, dirasakan, dibawa melalui soundscape negara masing-masing dan dikolaborasikan dalam sebuah karya komposisi bersama.

Dalam ritual itu ada proses perjalanan memori dan bagaimana kita saat ini benar-benar hidup dalam keadaan sekarang. Tidak berekspektasi untuk masa depan, namun juga tidak tenggelam dalam kenangan masa lalu.

Rangkaian acara kedua adalah Elective Class Performance, 3 September 2021. Isinya penampilan dari kelas pilihan peserta yang berlangsung dari jam 10.00 - 17.00 (waktu Amerika), atau dari jam 21.00 WIB (Jumat, 3 September 2021) sampai jam 04.00 WIB (Sabtu, 4 September 2021).

Dalam sesi ini Rani Jambak tampil jam 02.00 WIB (Sabtu, 4 September 2021) dini hari, dalam kelas experiments in songwriting and production.

Sesi ini menampilkan penyanyi Kolombia Ana Milena Lozada, pemain perkusi Utah dan pemain synth modular Gavin Ryan. Lalu produser Indonesia Rani Jambak; pemain perkusi dan produser Brasil Alexandre Baros; dan bassis Kolombia Miguel Velasquez Matija dengan produser yang berbasis di Brooklyn, Christopher Botta.  

Eksperimen gabungan dari video musik dan dokumenter, dipimpin oleh pemain perkusi yang berbasis di Recife Alexandre Baros dan produser Indonesia Rani Jambak. Mereka menampilkan karya pertama dari produser global ini yang telah dikembangkan bersama selama 6 minggu terakhir dalam proses OneBeat Virtual.

Sementara musisi Indonesia lainnya, Rangga Purnama Aji, tampil Sabtu 4 September jam 03.00-04.00 WIB dinihari dengan tema Resonation to Infinity and Beyond.

Sesi ini menampilkan artis suara dan live coder Indonesia, Rangga Purnama Aji; pemain cello NYC Dara Hankins; produser Rusia Ilia Symphocat; produser Bolivia Marco Flores Zapana dan pemain cello Rusia Alina Anufrienko dengan UMLILO yang berbasis di Johannesburg.

Rangkaian acar ketiga adalah Building Radio, 4 September 2021. Yaitu menampilkan seluruh rangkaian materi kegiatan yang sudah dilaksanakan oleh seluruh peserta OneBeat Virtual dalam 2 bulan ini.

Mereka akan bersiaran selama 6 jam, dari jam 09.00 – 15.00 (waktu Amerika), atau jam 20.00 WIB (tanggal 4 September 2021) sampai jam 02.00 WIB (tanggal 5 September 2021) dini hari.

Kegiatan ini dipimpin oleh produser Brasil Marcioz, MC Tshephang Mabizela a.k.a SOAW yang berbasis di Johannesburg, pemain biola kontemporer Teagan Faran, pemain synthesizer Amy Reid, dengan produser dan artis suara Brasil Luisa Puterman

Siapa Musisi Indonesia Alumni OneBeat?

OneBeat merupakan sebuah project budaya global yang strategis, menyatukan berbagai latar belakang, genre, bangsa, dalam sebuah gerakan diplomasi budaya untuk mendorong dalam pengembangan hubungan damai lintas bangsa.

Para alumni One Beat telah tersebar luas di seluruh dunia, dan tetap didorong untuk selalu terkoneksi dan terus berkarya bersama membuat berbagai program yang disebut sebagai Program OneBeat Abroad.

Program ini membawa pengalaman transformasional OneBeat ke negara-negara di seluruh dunia, melalui program residensi dan tur tahunan yang berlangsung di negara atau wilayah berbeda di dunia setiap tahun (semacam mini OneBeat), seperti di Istanbul, Rusia, Balkan, dan Kolombia.

Ada pula kerja kolaborasi para alumni OneBeat untuk membangun community development di masyarakat, berupa kegiatan festival musik dan workshop untuk musisi perempuan.

Berbagai program usulan alumni ini akan diseleksi dan berpeluang untuk bisa mendapatkan pendanaan sampai ribuan dollar Amerika.
 
Rangga Purnama Aji
Rangga Purnama Aji menekuni pengembangan live coding music, yaitu performance musik berbasis pemrograman coding. (Foto: for BATUKITA.com)

Semenjak dilaksanakannya program OneBeat di 2012, tercatat beberapa musisi Indonesia berhasil lolos ke dalam program ini.

Antara lain Sri Joko Raharjo pemain perkusi/kendang lulusan ISI Surakarta (OneBeat 2012); Peni Candra Rini, komposer dan penyanyi, ISI Surakarta (OneBeat 2014).

Ada nama Barry Likumahuwa, bassist jazz dari Tangerang (OneBeat 2014); Jay Afrisando, komposer, musisi multi instrument dari Bantul (OneBeat 2015).

Lalu ada Tedi En, pemain perkusi, musisi multi instrument dari Jatiwangi (OneBeat 2016); Rayhan Sudrajat, komposer, vokalis, pemain sapek dari Bandung (OneBeat 2017); Nursalim Yadi Anugerah, komposer, musisi multi instrument dari Pontianak (OneBeat 2019).

Kemudian Rani Jambak, komposer, produser musik, vokalis, seniman suara, dari Medan (OneBeat 2021 sesi 1); Rangga Purnama Aji, komposer, produser musik, live coding music, dari Jogja (OneBeat 2021 sesi 1). Terakhir ada Gardika Pradipta, komposer, pianis, dari Sragen (OneBeat 2021 sesi 2, akan start dimulai bulan September 2021)

Sekilas Tentang Rani Jambak

Rani Jambak adalah seorang komposer, produser dan vokalis yang berbasis di Medan. Setelah menyelesaikan Magister Industri Kreatif di Macquarie University, Australia, ia memulai karir solonya, mempelopori project-project seperti “Medan Soundspectives”, sebuah festival budaya yang merayakan keragaman akustik suara Kota Medan, Indonesia.

Rani kemudian menekuni pembuatan komposisi kreatif berbasis soundscape,  yaitu mengambil rekaman-rekaman suara alam dan aktivitas kehidupan sosial budaya masyarakat, dan menghubungkannya dengan perjalanan spiritual kehidupannya dan akar budaya leluhurnya dalam karya komposisi.
 

Rani juga merupakan seorang pencinta lingkungan, dari memulai kampanye media sosial #formynature di mana ia menciptakan musik tentang berbagai masalah lingkungan. Juga menjadi mitra Orangutan Haven dan PPLH Bahorok, sebuah pusat pertanian ramah lingkungan.

Sekilas Sosok Rangga Purnama Aji

Rangga Purnama Aji adalah komposer, produser, dan seniman video Indonesia. Dia juga Direktur Program October Meeting – Contemporary Music & Musicians, sebuah ruang pertemuan nirlaba untuk mengulas pemikiran, penelitian artistik dan ilmiah, dan kegiatan kritis terhadap pengembangan seni suara.

Karya Rangga berkisar dari musik akustik berbasis musik scoring hingga improvisasi gratis, live coding, musik elektro-akustik/elektronik, seni suara, komposisi lanskap suara, seni video, dan seni digital.

Praktik seninya mencoba mengkaji banyak kemungkinan dan visi berdasarkan latar belakang Jawa dan Sunda, referensi empiris, pemikiran tentang kehidupan, hubungan manusia, dan mistisisme, untuk menciptakan kesan dan makna alternatif.

Kini Rangga menekuni pengembangan live coding music, yaitu performance musik berbasis pemrograman coding. Ia mendorong terbentuknya komunitas musik berbasis coding di Indonesia, dan berjejaring dengan komunitas music coding internasional. (*)

Editor: Yosi Arbianto