Akibat Erupsi Semeru, Gladak Perak Putus, 13 Meninggal

awan panas erupsi semeru 4 Desember 2021

Awan panas guguran letusan Semeru menuju sebuah desa di Lumajang pada Sabtu, 04 Desember 2021, data sementara jembatan Gladak Perak putus, 13 orang meninggal, 57 luka bakar dan lebih 900 orang mengungsi (Foto: tangkapan layar BATUKITA.com dari video netizen)

BATUKITA.COM-Malang - Gunung Semeru di perbatasan Lumajang-Kabupaten Malang Jawa Timur mengalami erupsi pada Sabtu, 04 Desember 2021, pukul 14:50 WIB.

Meski sebuah erupsi sekunder (lihat sub judul di bawah) atau erupsi permukaan, letusan kali ini menjadi petaka. Sebab, awan panas guguran meluncur bersama banjir besar aliran lahar ke arah tenggara, mengikuti aliran Besuk Kobokan.

Identifikasi sementara oleh BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), 13 orang dinyatakan meninggal dunia.

Hasil pendataan yang masuk ke BNPB hingga Minggu 5 Desember 2021 pukul 10.00 WIB, ada dua kecamatan di Lumajang yang terdampak parah. Yakni Kecamatan Pronojiwo dan Kecamatan Candipuro. Dua Kecamatan ini letaknya di tenggara Gunung Semeru.

Di Kecamatan Pronojiwo, lokasi terdampak ada di Desa Pronojiwo, Desa Oro-oro Ombo, Desa Sumberurip, Desa Supiturang dan Dusun Curah Kobokan Desa Supiturang.

Lalu lokasi terdampak lainnya di Kecamatan Candipuro meliputi Desa Sumberwuluh dan Desa Sumbermujur.

Sejumlah 13 orang meninggal dunia, dua orang dilaporkan hilang, 20 orang terjebak dan sedang dievakuasi. Lalu korban luka bakar 57 orang dan 8 orang sempat terjebak di areal tambang pasir.

BPBD Kabupaten Lumajang juga melaporkan terdapat lebih dari 902 warga mengungsi.


Untuk kerusakan materiil, ratusan bangunan rusak tertimbun material vulkanik (lumpur, pasir dan kerikil).

Selain itu, jembatan legendaris Gladak Perak baru sepanjang sekitar 100 meter dan Gladak Perak lama, yang menghubungkan Lumajang dan Kabupaten Malang, terputus.

Hujan abu ringan hingga sedang juga menyebar ke delapan kecamatan di Kabupaten Malang dan beberapa desa sekitar Gunung Semeru.

kondisi pascaerupsi di desa supiturang lumajang
Kondisi sehari pascaerupsi Gunung Semeru di Desa Supiturang Kecamatan Pronojiwo, Lumajang (courtesy Instagram @mountainsiana for for BATUKITA.com)

Abu menyelimuti Kecamatan Ampelgading (Desa Argoyuwono), Kecamatan Tirtoyudo (Desa Purwodadi dan Desa Gadungsari).

Lalu Kecamatan Pagelaran (Desa Clumprit), Kecamatan Wajak (Desa Bambang), Kecamatan Kepanjen (Desa Panggungrejo dan Mojosari).

Kemudian Kecamatan Dampit (Kelurahan Dampit), Kecamatan Bantur (Desa Bantur dan Rejosari), serta Kecamatan Turen (Desa Talok).

Letusan Sekunder, Bukan Letusan Primer Semeru

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM RI melaporkan, Sabtu siang itu, kondisi hujan deras dan kabut meliputi puncak Semeru.

Pada pukul 13.30 WIB terekam getaran banjir. Kemudian pada pukul 14.50 WIB teramati awan panas guguran dengan jarak luncur 4 kilometer dari puncak, atau 2 kilometer dari ujung aliran lava ke arah tenggara (Besuk Kobokan).

Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 25 mm dan durasi 5.160 detik.

Sebelumnya pada 1 Desember 2021, terjadi awan panas guguran dengan jarak luncur 1.700 meter dari puncak, atau 700 meter dari ujung aliran lava, dengan arah luncuran ke tenggara. Pasca kejadian awan panas guguran, terjadi guguran lava dengan jarak dan arah luncur tidak teramati.

Menilik jumlah dan jenis gempa letusan yang terekam selama 1 hingga 30 November 2021, masih didominasi oleh gempa-gempa letusan permukaan.

Yakni berupa gempa letusan permukaan dengan jumlah rata-rata 50 kejadian per hari, dan gempa guguran pada 1 dan 3 Desember 2021, masing-masing 4 kali kejadian.

Gempa-gempa vulkanik (gempa vulkanik dalam, vulkanik dangkal, dan tremor) yang mengindikasikan kenaikkan magma ke permukaan, terekam dengan jumlah sangat rendah. 
 
Gempa-gempa vulkanik inilah yang menandakan apakah akan ada erupsi primer (erupsi karena muntahan sejumlah besar lava dari kawah gunung) atau tidak.
 
gladak perak lumajang putus
Jembatan Gladak Perak yang menghubungkan Lumajang dan Kabupaten Malang putus diterjang banjir lahar dan awan panas guuran erupsi Gunung Semeru, Sabtu 4 Desember 2021 (Foto: tangkapan layar BATUKITA.com dari video netizen))

Dalam pers rilisnya, PVMBG menegaskan, karena gempa vulkanik intensitasnya rendah, maka aktivitas yang terjadi pada 1 dan 4 Desember 2021 merupakan aktivitas permukaan (erupsi sekunder).

Dari kegempaan tidak menunjukkan adanya kenaikkan jumlah dan jenis gempa yang berasosiasi dengan suplai magma/batuan segar ke permukaan.

Dan, berdasarkan pengamatan visual menunjukkan, munculnya guguran dan awan panas guguran pada 4 Desember diakibatkan oleh ketidakstabilan endapan lidah lava.

Potensi Bahaya

Meski masih erupsi sekunder, namun tetap sangat berbahaya. Potensi ancaman bahaya erupsi Gunung Semeru berupa lontaran batuan pijar di sekitar puncak.

Sedangkan material lontaran berukuran abu dapat tersebar lebih jauh tergantung arah dan kecepatan angin.


Potensi ancaman bahaya lainnya berupa awan panas guguran dan guguran batuan dari kubah/ujung lidah lava ke sektor tenggara dan selatan dari puncak.

Jika terjadi hujan deras, dapat terjadi banjir lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di daerah puncak.

Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental, serta potensi ancaman bahayanya, maka PVMBG menilai tingkat aktivitas Semeru masih pada Level II (Waspada).

Rekomendasi PVMBG

Dalam status Level II (Waspada), diharapkan masyarakat/pengunjung/wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 1 kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru.

Lebih dari itu, juga diimbau tidak beraktivitas di jarak 5 kilometer arah bukaan kawah di sektor selatan tenggara.

Masyarakat di sebelah selatan dan tenggara harus mewaspadai potensi awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru. Terutama sepanjang aliran Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sarat.

Radius dan jarak rekomendasi ini akan dievaluasi terus untuk antisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya.

Untuk diketahui, Gunung Semeru adalah tipe strato dengan kubah lava, dengan puncak tertinggi Mahameru (3.676 meter dpl).

Aktivitas vulkanik aktif Gunung Semeru saat ini terdapat di Kawah Jonggring Seloko yang terletak di sebelah tenggara puncak Mahameru, yang terbentuk sejak 1913.

Letusan Gunung Semeru umumnya bertipe vulkanian dan strombolian, berupa penghancuran kubah/lidah lava, serta pembentukan kubah lava/lidah lava baru.

Penghancuran kubah/lidah lava mengakibatkan pembentukan awan panas guguran yang merupakan karakteristik dari Gunung Semeru.

Yosi Arbianto