Tulang Sapi Laku Ekspor ke Jepang untuk Penyaring Air

olahan tulang sapi

Di Jepang, olahan tulang sapi dan tulang kerbau itu digunakan untuk komponen penyaring air (water treatment) dan bahan baku pupuk. (Foto: courtesy etsy com for BATUKITA.com)

BATUKITA.COM-Jakarta - Olahan tulang sapi dan kerbau berpeluang besar menghasilkan dolar atau Yen ketika diekspor ke Jepang.

Permintaan Jepang akan olahan tulang sapi dan tulang kerbau terus meningkat sepanjang tahun.

Para eksportir tetap di Indonesia hingga triwulan ketiga 2022 ini, masih kewalahan memenuhi permintaan ekspor tersebut.

Di Jepang, olahan tulang sapi dan tulang kerbau itu digunakan untuk komponen penyaring air (water treatment) dan bahan baku pupuk.

Jepang meminta olahan dalam bentuk Tulang Sapi Cacah atau Cattle Bone Girst (CBG). Olahan tulang ini diberikan perlakuan pencacahan, pemanasan dan pengayakan.

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Balai Besar Karantina Tanjung Priok menyampaikan peluang ekspor olahan tulang sapi dan kerbau ke Jepang tersebut.

"Cacahan tulang sapi atau kerbau, itu banyak sekali permintaan dari Jepang, dan itu belum terpenuhi," kata Koordinator Informasi dan Sarana Teknis Karantina Hewan pada Balai Besar Karantina Tanjung Priok Kementerian Pertanian RI, Ai Srimulyati.

Ai Srimulyati mengatakan itu usai pemaparan 'Penguatan Akselerasi Ekspor Dalam Mendukung Gratiek (Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor)' di Hotel Augusta Garut, Jawa Barat, Sabtu, 18 September 2022.

Ia menuturkan peluang besar ekspor olahan tulang sapi ke Jepang diketahui dari eskportir olahan tulang di Bekasi. Menurut eksportir, jumlah permintaannya tinggi, bahkan berapa pun banyaknya akan dibeli.

Ia menyampaikan selama ini eksportir mengumpulkan tulang dari berbagai daerah di Indonesia. Tulang dikumpulkan di Bekasi sebelum diolah dan diekspor.

"Kalau mau kumpulkan tulang, kemudian dijemur, sudah kering kirim ke Bekasi, ke eksportir," katanya.

Baca pula: Menanam Bambu, Cegah Erosi Memanen Dolar

Dari data sistem otomasi karantina IQFAST Karantina Tanjung Priok pada 2019 lalu, tercatat di 2018, CBG yang telah di ekspor sebanyak 440 ton senilai Rp 3,1 milyar.

Lalu di bulan Januari hingga April 2019 tercatat 252 ton dengan nilai ekonomi Rp 1,7 milyar.(#)

Ardi Nugroho