Asal-Usul Lafal Niat Puasa Ramadan

puasa ramadan 2024

Bagaimana asal-usul susunan lafal niat puasa yang kita sering ucapkan dan dengarkan selepas tarawih? (Foto: BATUKITA.com)

BATUKITA.COM-Kota Batu - Memasuki bulan Ramadan, sering kita dengar dan praktikkan pelafalan niat puasa Ramadan selepas tarawih.

Bagaimana asal-usul susunan lafal niat puasa yang kita sering ucapkan dan dengarkan selepas tarawih?

Dalam mazhab Syafi’i, niat tak hanya menyengaja melakukan sesuatu (qashdul fi’li).

Tapi juga mesti disertai kejelasan jenis ibadah secara spesifik (ta”yîn), serta ketegasan status kefardhuannya (fardliyyah) bila ibadah itu memang fardhu.

Menurut Aang Fatihul Islam, Ketua PC LDNU Jombang via nuonline, praktik niat puasa adalah pada malam hari hingga terbit fajar, dan disunnahkan melafalkannya.

Untuk itu ulama Syafi’iyah menawarkan susunan redaksi niat yang sesuai dengan tata cara berniat tersebut.

Disusunlah sebuah lafal niat yang kemudian sering kita praktikkan dan dengar hingga kini di masjid atau madrasah di Indonesia yang mayoritas muslimnya bermazhab Syafi’i.

Imam An-Nawawi, misalnya, menuliskan bahwa: صِفَةُ النِّيَّةِ الْكَامِلَةِ الْمُجْزِئَةِ بِلَا خِلَافٍ أَنْ يَقْصِدَ بِقَلْبِهِ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى

"Bentuk niat yang sempurna adalah dengan sengaja hati bermaksud berpuasa esok hari untuk menunaikan ibadah fardhu di bulan Ramadan tahun ini, karena Allah ta'ala”. (Imam Nawawi, al-Majmu’, Riyadh, Dârul ‘Âlamil Kutub, juz 6, halaman 253).

Dari sini hadirlah redaksi lafal niat puasa yang sering diucapkan: نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ لله تَعَالىَ

"Aku sengaja berpuasa esok hari untuk menunaikan ibadah fardhu di bulan Ramadan tahun ini karena Allah ta'ala”.


Tradisi melafalkan niat puasa Ramadan itu tidak lepas dari pedoman niat dalam pandangan mazhab Imam Syafi’i sebagaimana penjelasan singkat di atas.

Mengapa dilaksanakan secara bersama-sama dan usai shalat tarawih? Hal ini tak lepas dari kearifan para ulama Nusantara. Yakni untuk bersikap hati-hati dari lupa melaksanakan salah satu rukun puasa tersebut.

Manusia adalah tempatnya lupa, sementara keabsahan puasa Ramadan pertama-tama dinilai dari niatnya.

Tentu yang demikian tanpa mengabaikan keyakinan bahwa walaupun tidak diucapkan setelah shalat tarawih atau bahkan tidak diucapkan sama sekali -yang penting dari sejak malam dan sebelum subuh hati kita sudah berniat untuk berpuasa- puasa sudah sah.

Semoga Allah menerima amal ibadah puasa kita, dan semoga Allah menganugerahkan ketakwaan kepada kita semua. Aamin. Wallahu A’lam. (#)