Pujon Jadi Basis Pejuang dan Pengungsi saat Agresi Belanda I - Sejarah Daerah Batu Malang (18)

pegunungan pujon di sebelah barat kota batu

Perlawanan meletus ketika Belanda menguasai daerah (kota) Batu dalam Agresi Militer I. Pujon sebagai daerah pegunungan dipilih menjadi basis pejuang sekaligus pengungsian. Tampak dalam foto adalah pegunungan di sebelah barat Kota Batu yang masuk wilayah Pujon (Foto: BATUKITA.com)

BATUKITA.COM-Kota Batu - Perlawanan rakyat, laskar dan TKR meletus secara sporadis ketika Belanda menguasai daerah (kota) Batu dalam Agresi Militer I, per 30 Juli 1947.

Perlawanan dilakukan salah satunya dengan menghambat pergerakan pasukan. Yakni dengan membuat lubang galian di jalan dan memotong pepohonan sehingga merintangi jalan.

Namun, barikade itu bisa dibersihkan, sehingga tank maupun truk pengangkut pasukan dapat lancar memasuki daerah Batu di bawah pimpinan Serma Mison dan Theo (wakil).

Perlawanan bersenjata juga dilakukan dengan perang gerilya bermodalkan senjata rampasan Jepang atau senjata seadanya.

Wilayah Pujon, Ngantang dan Kasembon menjadi basis pengungsian warga pribumi yang daerah tinggalnya dikuasai oleh Belanda dalam Agresi Militer I.

Sebelumnya, ketika pasukan Belanda masih tertahan di Lawang, TKR, TRIP, laskar santri bersama rakyat Malang Kota dan Batu menerapkan taktik bumi hangus.

Wilayah di dalam Kota Malang dikosongkan, beberapa obyek-obyek vital seperti kantor telegraf dan bangunan-bangunan strategis dibakar atau dibumihanguskan.

Tujuan bumi hangus agar bangunan itu tidak dimanfaatkan oleh Belanda dalam agresinya.

Drs M Dwi Cahyono M.Hum dalam Sejarah Daerah Batu, Rekonstruksi Sosio-Budaya Lintas Masa (2011) menerangkan, untuk wilayah Batu, sebagian tempat vital dihancurkan, termasuk vila-vila yang sebelumnya menjadi milik orang Belanda.

Namun, bangunan kokoh Jambe Dawe (kini Hotel Kartika Wijaya) dan Pagoreh (kini Polsek Batu) tak bisa dihancurkan.

Sehingga kedua bangunan di jantung daerah Batu ini dimanfaatkan sebagai markas Balanda.

Pasukan Belanda juga menguasai sejumlah bangunan, antara lain Fruphus di Tulungrejo, sebuah bangunan di Torong Sisir. Lalu sebuah bangunan lain yang kni menjadi SMPN 2 Batu.

Untuk memperkuat pertahanannya, Belanda mengadakan patroli setiap dua hari. Anggota patroli sebagian berpakaian polisi.

Patroli harian yang diselenggarakan pada malam hari digantikan oleh A.P (Algemene Politie). Pesonelnya terdiri dari orang-orang Indonesia yang bekerja untuk Belanda (sumber: Badan Arsip. 2001:42).

Pada 15 Oktober 1948 pukul 14:00 WIB datang lagi pasukan Belanda dari Jember ke Batu dengan menggunakan tiga buah truk

Pada pukul 21:00 WIB datang lagi empat buah truk membawa satu kompi tentara yang ditempatkan di Jambe Dawe, menggantikan kompi yang sebelumnya.

Markas Jambe Dawe dan Pagoreh dijaga dengan sangat ketat. Halaman gedung dilengkapi dengan kawat berduri guna menghadang serangan lawan (ANRI No. 1751/B V/b, 1948).

Bagi pasukan Belanda, daerah Batu memiliki geo-militer yang strategis. Karena dari daerah ini bisa dilakukan pengawasan terhadap posisi para pejuang kemerdekaan. Utamanya pejuang kemerdekaan dari Resimen 38 Batalyon Naga Hitam pimpinan Abdul Manan Wijaya, yang bermarkas di Pujon.

Selain itu, di Malang Barat terdapat Batalion Sunandar Prijosoedarmo yang walau berkedudukan di Pare, namun diperbantukan untuk SWK (sub wehrkreise-sub distrik militer) II meliputi Malang Barat, khususnya wilayah Kawedanan Pujon.

Dalam Batalion Sunandar terdapat satu kompi pasukan di bawah komando Soemadi, yang secara khusus ditugaskan untuk menjaga sentral listrik di Jawa Timur kala itu di daerah Mendalan (Kasembon) plus mempertahankan daerah Batu.

Sebelum Juli 1947 Batalion Naga Hitam  yang dikomandani Mayor Abdul Manan Wijaya bermarkas di Sombro Inn dan Jambe Dawe.

Akibat Agresi Militer I, sebagian besar pasukannya ditarik mundur dari Batu untuk konsolidasi pertahanan dengan menempati daerah berbukit-bukit di Pujon. Mereka ada di Gunung Banyak, Rajekwesi, Gunung Dali, Gunung Bale dan Gunung Seruk.

Batalion Naga Hitam ini membawahi beberapa kompi, diantaranya adalah kompi yang dipimpin oleh Kapten Sumitro dan Kapten Sumeru.

Untuk diketahui, warga pribumi yang daerah tinggalnya dikuasai oleh Belanda dalam Agresi Militer I banyak yang mengungsi ke Pujon, Ngantang dan Kasembon.

Mereka adalah penduduk Malang, Dinoyo, Karangploso, Batu, Punten dan Jurangkwali.

Banyaknya pengungsi ke Pujon dan sekitarnya menjadikan daerah ini sontak padat penduduk Akibatnya, beban kehidupan di sini sangat berat.

Sementara, kampung-kampung di Batu seperti Songgoriti, Tambuh dan sekitarnya rusak parah akibat pertempuran.

Karena posisi vital Pujon, Ngantang dan Kasembon sebagai daerah pengungsian dan markas, maka jalan Pujon-Pare penuh dengan berbagai rintangan dan dipertahankan dengan perlawanan bersenjata. (bersambung)

Yosi Arbianto

Baca juga: