Merdeka Pangan Kembali Tercapai, 2025 Indonesia Surplus Beras

indonesia swasembada beras 2025

Panen padi dengan mesin combine harvester di Subak Dalem Desa Bungkulan Kecamatan Sawan, Buleleng, Bali. (Foto courtesy Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Buleleng for BATUKITA.com)

BATUKITA.COM-Jakarta - Setelah lebih dari dua puluh lima tahun mengimpor beras, Indonesia mencatatkan swasembada pangan pada awal 2026.

Capaian swasembada pangan itu tersimpulkan pada Rabu, 7 Januari 2026, dalam momen panen raya gabah di Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat.

Capaian ini lebih cepat dari target nasional, yakni dalam satu tahun dari target empat tahun.

Untuk diketahui, Indonesia setidaknya telah mengimpor beras semenjak 2000. Angka yang dicatat BPS, volume impor beras setiap tahunnya bervariasi.

Misalnya pada 2000, volume impor beras mencapai 4,7 juta ton. Lalu pada 2003 sebesar 1,8 juta ton. Pada 2007 mencapai 1,4 juta ton. Pada 2011 mencapai 2,7 juta ton.

Tahun 2023 volume impor beras meningkat drastis menjadi 3,06 juta ton. Dan pada 2024, volume impor terekam 4,5 juta ton.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa swasembada pangan merupakan fondasi utama kedaulatan dan kemerdekaan sebuah bangsa.

"Tidak ada bangsa yang merdeka kalau makan tidak bisa tersedia untuk rakyat. Tidak mungkin bangsa itu merdeka kalau makan, pangan, tergantung bangsa lain,” tegas Presiden.

Indikator utama swasembada pangan adalah data produksi beras nasional 2025.

Produksi Beras 34 Juta Ton Kebutuhan 31 Juta Ton

Badan Pusat Statistik (BPS) pada April 2026 mencatat, produksi padi nasional 2025 mencapai 71,95 juta ton dalam bentuk Gabah Kering Panen (GKP).

Sementara produksi pada 2024 sebesar 63,51 juta ton. Produksi nasional 2025 meningkat dibanding 13,29 persen.

Kenaikan mencapai 8,44 juta ton ini menjadi yang tertinggi dalam satu dekade terakhir.

Jika dikonversi ke beras konsumsi, produksi sepanjang Januari–Desember 2025 dikalkulasi mencapai 34,77 juta ton.

Angka tersebut telah melampaui kebutuhan konsumsi nasional yang berada pada kisaran 30–31 juta ton per tahun. Sehingga ada surplus produksi.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman pada Kamis 24 April 2026  mengumumkan,  Cadangan Beras Pemerintah (CBP) untuk pertama kalinya menembus 5.000.198 ton.

Angka ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia, khususnya pada periode bulan April.

"Alhamdulillah hari ini tanggal 23 April 2026, sekarang jam 8.55, stok beras seluruh Indonesia 5.000.198 ton. Ini adalah pertama, tidak pernah terjadi sepanjang sejarah. Ini sejarah pertama. Inilah hasil kerja keras kita semua,” ujar Mentan Amran saat meninjau gudang beras di Karawang.

Mentan Amran menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja terstruktur dari berbagai intervensi kebijakan.

"Produksi kita meningkat signifikan dan ini bukan kebetulan. Ini hasil dari perbaikan menyeluruh dari hulu hingga hilir. Dengan tren ini, swasembada beras bukan lagi target, tetapi sudah kita capai dan kita jaga keberlanjutannya,” ujar Mentan Amran.

Capaian nasional tersebut juga sejalan dengan proyeksi lembaga internasional. Food and Agriculture Organization memperkirakan produksi beras Indonesia mencapai 35,6 juta ton pada musim tanam 2025/2026.

Sementara United States Department of Agriculture mencatat 34,6 juta ton. Angka tersebut konsisten dengan estimasi BPS sebesar 34,77 juta ton.

Dari sisi neraca, produksi 2026 diproyeksikan mencapai 34,76 juta ton, melampaui kebutuhan konsumsi sebesar 31,1 juta ton.

Surplus sekitar 3,66 juta ton tersebut diperkuat oleh carry over stock 2025 sebesar 12,4 juta ton. Sehingga stok beras nasional diperkirakan mencapai 16,1 juta ton pada akhir 2026.

Kerja Kolektif Petani Pedagang hingga Kebijakan

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Andi Nur Alam Syah, menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja bersama.

“Swasembada ini adalah hasil kerja bersama. Petani, penyuluh, dan pemerintah bergerak dalam satu arah. Ketika pupuk tersedia, alsintan dimanfaatkan, dan air terjamin, maka produksi meningkat. Data yang ada hari ini adalah hasil nyata dari proses tersebut,” ujarnya di Jakarta, Kamis  22 April 2026.

Ia menjelaskan, peningkatan produksi didorong perbaikan akses pupuk bersubsidi, percepatan mekanisasi pertanian, optimalisasi irigasi, serta penggunaan benih unggul bersertifikat.

"Pemerintah memastikan pupuk subsidi tetap menjadi prioritas dengan harga yang lebih terjangkau bagi petani. Di saat yang sama, mekanisasi pertanian terus diperkuat untuk mempercepat tanam, meningkatkan efisiensi, dan mengurangi kehilangan hasil. Ini yang mendorong lonjakan produksi secara nyata di lapangan,” jelasnya.

Data BPS menunjukkan bahwa strategi peningkatan produksi melalui perluasan areal tanam, penguatan irigasi, serta dukungan sarana produksi telah memberikan hasil nyata.

Kenaikan produksi 8,44 juta ton GKP dalam satu tahun adalah capaian yang terukur.

"Ke depan, seluruh dukungan infrastruktur dan kebijakan akan terus diperkuat untuk menjaga keberlanjutan swasembada,” jelasnya.

Menurutnya, reformasi di sektor hulu tersebut merupakan fondasi jangka panjang.

“Ini bukan capaian satu tahun, tetapi fondasi yang memastikan produksi tetap tinggi, stabil, dan berkelanjutan,” pungkasnya. (#)


Yosi Arbianto