Banjir Bandang Kota Batu 4 Nov 2021, Terparah Kurun 20 Tahun

banjir bandnag kota batu nov 2021

Kondisi ketika banjir bandang melanda Desa Bulukerto Kecamatan Bumiaji 4 November 2021 (tangkapan layar netizen for BATUKITA.com)

BATUKITA.COM-Kota Batu - Banjir bandang terparah di Kota Batu Jawa Timur dalam kurun 20 tahun terakhir, menerjang enam wilayah di lima desa Kecamatan Bumiaji, Kamis 4 November 2021 sore. Tujuh warga Kota Batu meninggal dunia.

Enam wilayah di lima desa yang dilanda banjir bandang adalah Dusun Sambong, Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji; Jalan Raya Dieng atau Raya Pandarejo, sekitar kantor pajak Kota Batu; dan Dusun Beru, Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji.

Lalu di Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji; Jalan Raya Selecta (pertigaan masuk Selecta), Desa Tulungrejo; dan Dusun Gemulo, Desa Punten Kecamatan Bumiaji.

Hasil pendataan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu pada Sabtu 6 November 2021, tujuh orang dinyatakan meninggal dunia.  

Korban meninggal adalah Wiji dan Sarip (60), warga RT 6 RW 4 Dusun Sambong Desa Bulukerto; Adi Wibowo, warga Jalan Kartini, Kelurahan Ngaglik yang hilang di Dusun Cangar, Desa Bulukerto.

Lalu ada Wakri, warga Dusun Sabrang Bendo RT 51 RW 8 Desa Giripurno; Mahendra Feri, warga Dukuh Sambong, Dusun Gintung; Alverta Shenazia Arvisa Vindra, warga Dukuh Sambong, Dusun Gintung dan Tokip, warga RT 6 RW 4, warga Dusun Sambong, Desa Bulukerto.

Banjir bandang itu memunculkan kerugian langsung kepada 89 kepala keluarga. Hingga H+1, puluhan warga sempat mengungsi ke kerabatnya atau tetangganya.
 
pasca banjir dusun beru bumiaji
Kondisi Persawahan Dusun Beru Desa Bulukerto Kecamatan Bumiaji pascabanjir bandang 4 November 2021 (TV Desa Bumiaji for BATUKITA.com)

Untuk kerugian materil banjir bandang itu, sejumlah 35 unit rumah rusak, 33 unit rumah terendam lumpur. Lebih dari itu, 73 unit sepeda motor rusak, 7 unit mobil rusak, 107 hewan ternak hanyut dan mati, lalu 10 kandang ternak rusak berat.

Rusaknya Resapan di Bagian Hulu

Beragam pihak memberikan penilaiannya tentang penyebab tragedi banjir bandang terparah tersebut.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas Muhammad Rizal menyatakan, banjir bandang itu utamanya disebabkan daerah resapan di bagian hulu sudah rusak.

Curah hujan yang cukup tinggi, diperparah dengan kondisi tangkapan airnya  yang sudah terbuka, menyebabkan banyak erosi tanah dan batu. Kemudian aliran air campur tanah itu membawa serta kayu-kayu. "Memang itu (resapan air) perlu diperbaiki agar tidak terjadi lagi," tutur Rizal sehari setelah kejadian.

 
banjir bandang kota batu

Mobil hanyut dalam banjir bandnag di Bumiaji Kota Batu 4 November 2021 (Foto: netizen for BATUKITA.com)

Lalu, Perum Jasa Tirta I sebagai pengelola sumber daya air Brantas pun melakukan penelusuran kondisi hulu pascabanjir, pada 5 - 9 November 2021.

Penelusuran  dilakukan dengan menggunakan pesawat nirawak (drone) dan pengamatan manual oleh petugas.

Dari penelusuran drone diketahui sebagian besar lahan di hulu Brantas cukup kritis. Area tegakan pohon hanya tersisa di lereng-lereng terjal, punggung bukit. Area selebihnya banyak digunakan sebagai lahan pertanian dan pemukiman.

"Tutupan lahan yang kritis ini menjadi pemicu tingginya laju erosi di hulu. Dari hasil foto udara yang kami peroleh, banyak terlihat longsoran baru pada lereng-lereng Arjuna. Longsoran ini akan masuk ke alur-alur alami dan membentuk tumpukan yang membendung alur tersebut," jelas Direktur Utama Perum Jasa Tirta I Raymond Valiant Ruritan dikutip dari kantor berita Antara pada 11 November 2021.


Sedangkan penelusuran manual dilakukan hingga masuk ke lereng Pusung Lading, Gelagah Wangi, dan Alas Bengking.

Hasilnya, banyak ditemukan bekas-bekas bendung alami karena erosi dalam kurun waktu sebelumnya. Bendung alami adalah penumpukan meterial tanah, pasir, kayu dan material lain secara perlahan dalam waktu tertentu yang menyumbat aliran air.

"Di situ ditemukan bekas-bekas bendung alami yang telah jebol terbawa aliran air pada saat hujan turun," ucapnya.

Dari bandung-bendung alami yang banyak itu, mengakibatkan tingginya debris flow pada kejadian banjir bandang 4 November 2021.

Untuk diketahui, aliran debris (debris flow) merupakan aliran yang terdiri dari campuran material halus berukuran kecil (clay, lumpur, pasir) sampai material berukuran kasar (kerikil, bongkahan bebatuan) dengan sejumlah volume air.

Material debris flow mengalir dengan volume besar dan kecepatan tinggi menghasilkan momentum yang bisa menyebabkan kerusakan infrastruktur, lingkungan, bahkan korban jiwa.

Raymond melanjutkan, laporan hasil penelusuran ini nantinya akan disampaikan kepada pemangku kebijakan. Yakni Pemerintah Kota Batu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, maupun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Dengan potret kondisi riil hulu Brantas ini, Ia berharap dapat memudahkan pemangku kebijakan dalam menentukan upaya penanganan dan sekaligus pencegahan bencana serupa di masa mendatang. 
 
citra satelit kota batu 1985
Citra satelit Kota Batu 1985 (Foto: BATUKITA.com)

citra satelit kota batu 1990
Citra satelit Kota Batu 1990 (Foto: BATUKITA.com)
 
 citra satelit kota batu 1995
Citra satelit Kota Batu 1995 (Foto: BATUKITA.com)
 
 
citra satelit kota batu 2015
Citra satelit Kota Batu 2015 (Foto: BATUKITA.com)
 
 
citra satelit kota batu 2020
Citra satelit Kota Batu 2020 (Foto: BATUKITA.com)
 
Di tempat terpisah, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui tim tanggap darurat dari Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) menyampaikan analisisnya. ORPA menyebut salah satu penyebab terjadinya banjir bandang di Kota Batu adalah degradasi lahan hutan.

Plt. Kepala Pusat Riset Aplikasi Penginderaan Jauh, ORPA, M. Rokhis Khomarudin, mengatakan hasil analisis berupa informasi pemetaan dari satelit. Hasil pemetaan menunjukkan adanya penurunan luasan hutan dari tahun 1995 – 2021.

"Hasil analisis menunjukkan bahwa terjadi penurunan hutan seluas 2.085 hektar, penurunan sawah seluas 2.295 hektar, peningkatan kawasan pemukiman 420 hektar, dan peningkatan luas perkebunan sebesar 3.939 hektar,” kata Rokhis melalui keterangan tertulisnya, Senin 08 November 2021. 
 
Sementara itu, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menganalisa, sekitar 150 hektar kawasan hutan Kota Batu yang menjadi hulu dari sungai yang diterjang banjir 4 November 2021, dibuka untuk ladang dan pertanian.

Walhi menganalisa, di wilayah hulu sungai telah terjadi alih fungsi kawasan. Sepanjang Desa Tulungrejo hingga Dea Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji.

Alih fungsi kawasan hutan untuk pertanian dan peruntukan lain menjadi salah satu penyebab menurunnya kerja wilayah resapan dan tangkapan air.

Banyak di atas kawasan tersebut yang menjadi lahan pertanian, salah satunya juga didorong oleh alih fungsi lahan produktif untuk wisata dan peruntukan lain seperti hotel dan perumahan.

Sehingga sebagai dampak, beberapa orang mulai merambah kawasan hutan untuk dijadikan pertanian. Hal ini menunjukkan jika ada faktor ketimpangan ekonomi, khususnya akses dan kelola atas lahan sehingga mendorong ekspansi ruang pertanian baru.

Banjir Terparah 20 Tahun Terakhir

Dalam catatan BatuKita 20 tahun terakhir, banjir bandang 4 November 2021 adalah yang paling parah bila dibandingkan dengan banjir yang terjadi tahun-tahun sebelumnya. Alasannya karena ada 7 orang korban meninggal dan kerugian materiil cukup besar.

Banjir-banjir sebelumnya tidak separah itu. Antara lain banjir lumpur sebelumnya yang terjadi pada Kamis 8 April 2021 di Desa Sumber Brantas, Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur.

Dua dusun terdampak langsung banjir lumpur yang diestimasi setinggi 10-40 centimeter itu. Yakni Dusun Lemah Putih dan Dusun Jurangkuali.

Akibat banjir bandang ini, tiga titik jalan raya sempat tak bisa dilalui kendaraan roda empat karena tertutup lumpur. BPBD Kota Batu mendata ada sembilan (9) rumah kemasukan lumpur. Tidak ada korban jiwa dalam bencana itu.


Mundur ke belakang lagi, banjir bandang terjadi di Kota Batu pada Selasa 21 Februari 2017. Banjir bandang terjadi di tiga titik. Yakni Dusun Lemah Putih Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji. Lalu banjir lumpur menimpa Dusun Gintung Desa Bulukerto dan Dusun Beru Desa Bumiaji Kecamatan Bumiaji.

Di Dusun Lemah Putih, Sumber Brantas, mengakibatkan beberapa rumah warga kemasukan air dan lumpur. Selain itu satu kandang sapi ikut roboh. Lalu terdapat lima rumah warga yang terkena longsor.

Sedangkan banjir di Dusun Gintung, terdapat dua rumah warga terendam air lumpur dengan ketinggian sekitar satu meter.

Sedangkan di Dusun Beru Desa Bumiaji berakibat satu green house bunga krisan rusak, ladang kebun jeruk serta sekitar tujuh rumah warga dan akses jalan lumpuh karena tertimbun lumpur serta luapan air ke jalan warga. Juga pagar jembatan ikut rusak.

Pada 18 Maret 2015 dan beberapa hari hujan sebelumnya, banjir parah pernah terjadi di Jalan Panglima Sudirman (Pangsud) Desa Pesanggrahan Kecamatan Batu. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.

Air dari saluran drainase meluap ke jalan hingga ketinggian 50 centimeter. Dalam mitigasi Dinas PU Pengairan dan Bina Marga kala itu, drainase ternyata penuh dengan tumpukan sampah.

Banjir besar juga pernah menerjang lahan pertanian di Dusun Klerek dan Dusun Krajan Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu  pada Minggu 21 Desember 2014. Sedikitnya 20 rumah warga penuh air bercampur lumpur.

Lebih dari itu, sedikitnya 10 hektar lahan pertanian di dua dusun itu rusak parah. Namun tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

Saat itu, Sugeng Santoso Wijoyo selaku Kepala Desa Torongrejo berharap perbaikan saluran irigasi secepatnya direlisasikan.
 
Juga segera ada sudetan baru untuk menampung kiriman air dari wilayah lereng Panderman, stadion Brantas, saluran gorong-gorong Jalan Imam Bonjol dan perempatan Batos (Jalan Diponegoro-Wukir), yang bermuara di saluran irigasi Torongrejo.

Catatan lain banjir terjadi pada 2 Desember 2014 di Jalan Semeru Kelurahan Sisir Kota Batu. Air bercampur sampah, lumpur dan pasir dari Sungai Kebo meluber dan membanjiri rumah warga.

Sedikitnya 45 rumah warga terendam banjir dengan tinggi air sekitar 60 centimeter. Ada rumah yang temboknya roboh atau kacanya pecah terkena aliran debris.

Perabotan rumah tangga ikut terkena banjir. Bahkan diantaranya ada yang hilang terseret air. Namun tidak ada korban jiwa.
 
Banjir besar lainnya adalah banjir bandang di aliran Brantas pada 12 Juli 2013. Banjir ini menghantam enam titik. Di Kecamatan Bumiaji, banjir melanda Desa Giripurno, Dusun Durem, Desa Gunungsari, Dusun Brumbung, Desa Punten, Dusun Kungkuk, dan Desa Sumberejo Kecamatan Batu.

Akibat banjir bandang itu, enam rumah rusak dan beberapa jembatan ambrol.

Yosi Arbianto