Kebutuhan Cahaya Tanaman Ruangan (indoor), Ini Panduannya

anthurium jemanii

Anthurium jemanii merupakan tanaman dalam ruangan yang toleran terhadap intensitas cahaya rendah, namun lebih optimal bila berada di ruangan dengan cahaya sedang (Foto: BATUKITA.com)


BATUKITA.COM-Kota Batu - Cahaya menjadi faktor pertama yang harus diperhatikan dalam perawatan tanaman hias dalam ruangan (house-plants). Intensitas cahaya diukur menggunakan satuan foot candle atau disingkat fc.

Satu foot candle bisa diartikan intensitas cahaya nyala sebuah lilin (1 lumen) yang dipancarkan menyinari permukaan seluas 30 centimeter persegi (1 foot square) sejauh 30 cm (1 foot).

Satuan intensitas cahaya juga dinyatakan dalam lux. Satu foot candle setara 10,7639 lux.

Untuk mengukur intensitas cahaya secara tepat digunakan alat pengukuran yang disebut foot candle light meter. Beberapa aplikasi dalam ponsel berbasis iOS maupun Android juga menawarkan kemampuan mengukur intensitas cahaya.

Tanaman hias di dalam ruangan umumnya hanya memeroleh cahaya alami dalam jumlah yang sangat terbatas melalui jendela atau pintu. Padahal, di alam terbuka tanaman dapat memeroleh cahaya matahari mencapai 10.000-12.000 fc.

Sedangkan di dalam ruangan, ada kemungkinan intensitas cahaya matahari yang masuk melalui jendela atau pintu hanya sekitar 2.000-5.000 fc.

Bahkan cahaya di dalam ruangan itu kadang-kadang intensitasnya (kekuatannya) dapat menurun menjadi 500 fc atau bahkan lebih rendah lagi. Rata-rata intensitas pencahayaan dalam ruangan yang jauh dari jendela adalah kurang dari 250 fc.

Berikut panduan perkiraan kekuatan intensitas cahaya dalam sebuah ruangan, dikutip dari plantophiles.com.

  • Bright direct light +- 2.000-5.000 fc
  • Bright indirect light +- 1.000-2.000 fc
  • Medium light +- 250 to 1.000 fc
  • Low light +- 50 – 250 fc

light catagory

Tanaman yang menderita kekurangan cahaya, pertumbuhannya tidak normal. Tanda-tanda tanaman yang menderita kekurangan cahaya adalah sebagai berikut:

  1. Ukuran daun lebih kecil daripada daun yang normal.
  2. Pertumbuhan tanaman terhambat dan lemah, karena proses fotosintesis tidak optimal.
  3. Batang tanaman memanjang dan langsing atau disebut etiolasi.
  4. Jarak antara daun yang satu dan yang daun lain lebih jauh (renggang) karena tanaman tumbuh merentang untuk mendapatkan cahaya matahari lebih banyak.
  5. Daun berwarna pucat, kuning, layu, dan berguguran.
  6. Daun dan batang tanaman cenderung tumbuh mengarah kepada sumber cahaya. Hal ini mengakibatkan tajuk tanaman tumbuh tidak merata.

Setelah mengetahui gejala tanaman kekurangan cahaya, maka cara mengatasi tanaman yang kekurangan cahaya antara lain sebagai berikut:

  1. Tanaman sering dibawa ke luar ruangan agar memeroleh cahaya yang cukup. Dalam sehari cukup 2-3 jam.
  2. Tanaman yang batang dan daunnya cenderung mengarah ke sumber cahaya harus sering diputar-putar secara bergantian. Upaya pemutaran tersebut agar tajuk tanaman tumbuh merata.
  3. Menata kembali tanaman sesuai dengan intensitas cahaya yang masuk. Utamanya ketika ada perpindahan letak matahari.Baca di sini.
  4. Menyediakan tambahan cahaya berupa lampu yang dilengkapi reflektor.

Baca pula: Agar Tetap Segar, Begini Syarat Tumbuh Tanaman Hias dalam Ruangan

Berdasarkan kebutuhan cahaya, tanaman hias dalam ruangan terbagi dalam tiga kategori. Berikut tiga kelompok tanaman berdasarkan kemampuan menerima cahaya dirujuk dari AS Darmono dalam Tanaman Hias Ruangan, Mengenal & Merawat.

1. Tanaman yang Memerlukan Cahaya Penuh

Jika menggunakan cahaya buatan, kelompok tanaman ini memerlukan cahaya lampu yang intensitas pencahayaannya sekitar 400-800 fc.

Untuk memenuhi intensitas cahaya sebesar itu memerlukan empat buah lampu neon masing-masing 40 watt dengan jarak pemasangan antara lampu dan tanaman 60 cm.

Untuk menghemat listrik maka jenis tanaman tersebut harus diletakkan di tempat yang dekat dengan sumber cahaya alami, misalnya dekat jendela atau pintu.

Termasuk kelompok tanaman ini adalah Cordyline, Sansevieria, Coleus, Cyperus, Ficus benyamina, Chrysalidocarpus lutescens (palem kuning), Chlorophytum.

2. Tanaman yang Memerlukan Cahaya Sedang

Kelompok tanaman ini memerlukan intensitas pencahayaan sektiar 200-500 fc. Jika menggunakan cahaya buatan cukup dengan lampu neon 40 watt dan lampu pijar (bolam 75 watt. Atau bisa dengan cahaya alami 2-3 jam sehari atau cahaya matahari tidak langsung.

Termasuk kelompok tanaman ini adalah Aglaonema, Anthurium, Dieffenbachia sp, Chamaedorea, Calathea sp, Begonia sp, Philodendron sp, Peperomia sp, Saint paulia (Violces), Syngonium sp, Zebrina sp, Nephrolepis sp, Pteris tremula.

3. Tanaman yang Menyukai Cahaya Terbatas

Kelompok tanaman ini cocok sekali ditempatkan di tempat yang teduh. Jika pencahayaan menggunakan cahaya buatan dari lampu, cukup dengan intensitas lampu redup yang berkekuatan (intensitas) 50-200 fc.

Kelompok tanaman ini cocok untuk ditempatkan di dalam ruangan yang tidak begitu banyak mendapat cahaya matahari.

Termasuk kelompok tanaman ini adalah Aglaonema, Anthurium sp, Dieffenbachia sp, Philodendron sp, Nephrolepis sp, Preris tremula, Chamaedoria elegans, Monstera deliciosa, Rhapis excelsa.

Pengaturan Cahaya Buatan dalam Ruangan

Tanaman hias banyak yang ditempatkan di sudut-sudut ruang yang tak terjangkau cahaya matahari. Agar tetap tumbuh optimal, pemilik menambahkan cahaya buatan dari lampu neon, LED atau lampu pijar.

Cahaya lampu yang terbaik adalah lampu neon atau LED, karena cahayanya sejuk dan tidak membakar tanaman. Jarak antara lampu dan tanaman harus diatur secara tepat agar tidak membakar tanaman.

Intensitas cahaya yang diterima tanaman dipengaruhi oleh jarak dari sumber cahaya, daya sumber cahaya (watt), dan reflektor.

Jarak antara sumber cahaya dan tanaman dihitung mulai dari pucuk tanaman sampai ke bola lampu.

Untuk tanaman yang masih muda, jarak antara lampu dan tanaman adalah 50 cm. Untuk tanaman yang sudah dewasa, jarak antara lampu dan tanaman sekitar 100 cm. Sedangkan untuk tanaman berbunga, jarak lampu dan tanaman adalah 75 cm.

Untuk mengarahkan cahaya lampu dan untuk meningkatkan intensitas pencahayaan, sebaiknya digunakan reflektor.

Reflektor tersebut gunanya adalah meningkatkan kebutuhan pencahayaan tanpa menambah kekuatan aliran listrik.

Tanaman yang jaraknya 15 cm di bawah dua buah neon 40 watt tanpa reflektor, akan menerima intensias pencahayaan 500 fc. Tetapi jika lampu tersebut diberi reflektor, maka tanaman akan menerima intensitas pencahayaan 700 fc.

Sementara itu, dalam sebuah penelitian, Safinatul Aulia, Ansar, dan Guyup Mahardhian Dwi Putra, menyimpulkan bahwa lampu neon 42  watt  berwarna  putih memberikan hasil lebih baik dibandingkan dengan lampu neon kuning.

Penyinaran dengan lampu kuning dengan durasi  24  jam  tidak  berpengaruh  nyata terhadap tanaman yang diteliti. Mereka meneliti tanaman kangkung.

Dalam penelitian itu, jarak lampu ke tanaman 5 centimeter. Lampu putih menyinari tanaman selama 10 jam dan lampu kuning menyinari tanaman 24 jam.

Penelitian itu berjudul Pengaruh Intensitas Cahaya Lampu dan Lama Penyinaran Terhadap Pertumbuhan Tanaman Kangkung  pada Sistem Hidroponik Indoor.

Demikian pembahasan tentang cahaya untuk tanaman hias dalam ruangan. Pembahasan selanjutnya tentang suhu, air, kelembaban, udara dan media tanam. (bersambung)

Yosi Arbianto

Baca juga: