Tanaman Herbal: Sejarah Singkat

bahan alami berkhasiat obat

 Aneka bahan alam yang berkhasiat sebagai obat dan perawatan kesehatan (courtesy foto Liliek Hermanu for BATUKITA.com)

BATUKITA.COM-Kota Batu - Pandemi penyakit Covid-19 (Corona Virus Disease 2019) di awal 2020 memaksa masyarakat selalu menjaga kebersihan dan kesehatan tubuhnya.

Seperti halnya virus lainnya, virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit Covid-19 tak bisa dimatikan dari tubuh penderita. Virus akan tetap ada di dalam sel manusia yang telah terinfeksi dan menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. 

Mengutip pernyataan Prof Sutiman Bambang Sumitro, M.Sc., D.Sc selaku ahli biologi sel Universitas Brawijaya, langkah utama melawan Covid-19 adalah meningkatkan imun, imun dan imun.

Imunitas, imun, kekebalan atau ketahanan tubuh harus senantiasa dipelihara. Sebab sistem pertahanan tubuh ini telah diciptakan Tuhan untuk memberikan perlawanan agen asing yang masuk ke dalam tubuh. Juga untuk mengalahkan serangan mikroorganisme, termasuk virus Covid-19.

Salah satu cara menjaga imun agar tetap kuat adalah dengan mengonsumsi makanan sehat, olahraga, istirahat teratur dan perawatan kesehatan. 

Mengonsumsi senyawa-senyawa alami dari tumbuhan berkhasiat (herbal) menjadi bagian dari perawatan kesehatan. Mengonsumsi tanaman kesehatan bisa menjadi obat ketika sakit. Saat sehat, perawatan kesehatan dengan herbal berperan meningkatkan imunitas. 

Indonesia mempunyai kekayaan hayati (tanaman) yang sangat besar. Di negeri khatulistiwa ini tumbuh sebagian besar tanaman berkhasiat obat dan perawatan kesehatan. 

Peneliti LIPI Andria Agusta pada 26 Mei 2015 mengabarkan, dari 40.000 tanaman obat di dunia, hampir 30.000 terdapat di Indonesia. Dan, sekitar 7.500 di antaranya telah dimanfaatkan untuk pengobatan. 

Bahkan tak hanya untuk obat atau perawatan kesehatan. Beragam tanaman itu juga dimanfaatkan untuk kosmetik atau perawatan kecantikan. 

Tanaman berkhasiat sebagai perawatan kesehatan dan obat pada awalnya diperkenalkan oleh nenek moyang secara turun temurun. Penggunaannya dimulai secara tradisional dan kian berkembang setelah semakin banyak orang mengenal dan merasakan khasiatnya.


Sebelum membahas jenis-jenis tanaman untuk perawatan kesehatan dan obat, ada baiknya mengenal dahulu sejarah tanaman obat di dunia. 

Rentetan sejarah ini dikutip dari Ami Wahyu dan Gagas Ulung dalam Ramuan Herbal Berkhasiat untuk Cantik Alami Luar Dalam.
 

Tahun 2500 SM

Catatan pertama tentang penulisan tanaman obat dan berbagai khasiatnya telah dikumpulkan oleh orang-orang mesir kuno. Di zaman Mesir kuno (tahun 2500 SM), para budak diberi ransum bawang untuk membantu menghilangkan penyakit demam dan infeksi yang umum terjadi pada masa itu. 

Pada saat itu, para pendeta Mesir kuno telah melakukan dan mempraktikkan pengobatan herbal.

Tahun 980 SM

Tanaman herbal di Cina telah berkembang sekitar 3.000 tahun yang lalu. Misalnya ketika muncul penyembuhan kerapuhan tulang yang diobati dengan sejenis tanaman.

Bahan penyembuhan tertua dalam sejarah telah ditemukan di China. Yakni di makam seorang bangsawan Han ditemukan menyimpan data medis yang ditulis pada gulungan sutra. Gulungan sutra berisi daftar 247 tumbuh-tumbuhan dan bahan-bahan yang digunakan dalam menyembuhkan penyakit.

Tahun 466 SM

Bangsa Yunani kuno juga banyak menyimpan catatan mengenai penggunaan tanaman obat yaitu Hyppocrates (tahun 466 SM), Theophrastus (Tahun 372 SM) dan Pedanios Dioscorides (Tahun 100 SM). Mereka membuat himpunan keterangan terinci mengenai ribuan tanaman obat dalam De Materia Medica

Orang-orang Yunani kuno juga telah melakukan pengobatan herbal. Mereka menemukan berbagai tanaman obat baru, seperti rosemary dan lavender pada saat melakukan perjalanan ke berbagai daratan lain.

Abad ke-15

Di Inggris, penggunaan tanaman obat dikembangkan bersamaan dengan didirikannya biara-biara di seluruh negeri. Setiap biara memiliki tanaman obat masing-masing yang digunakan untuk merawat para pendeta maupun penduduk setempat. 

Pada beberapa daerah, khususnya Wales dan Skotlandia, para penyembuh Celtik menggunakan obat-obatan dalam perayaan agama dan ritual mereka. 

Pengetahuan tanaman obat semakin berkembang dengan terciptanya mesin cetak pada abad ke-15, sehingga penulisan mengenai tanaman-tanaman obat dapat dilakukan.

Sekitar tahun 1630, John Parkinson dari London menulis mengenai tanaman obat dari berbagai tanaman. Kemudian Nicholas Culpepper ( 1616-1654 ) dengan karyanya yang paling terkenal yaitu The Complete Herbal and English Physician, Enlarged, diterbitkan pada 1649. 

Pada tahun 1812, Henry Potter telah memulai bisnisnya menyediakan berbagai tanaman obat dan berdagang lintah. Sejak saat itu banyak sekali pengetahuan tradisional dan cerita rakyat tentang tanaman obat ditemukan mulai dari Inggris, Eropa, Timur Tengah, Asia, dan Amerika. 

Sehingga Potter terdorong untuk menulis bukunya Potter's Encyclopaedia of Botanical Drug and Preparatians, yang sampai saat inipun masih diterbitkan. 

Tahun 1864, National Association of Medical Herbalists didirikan dengan tujuan mengorganisir pelatihan para praktisi pengobatan secara tradisional. Serta mempertahankan standar-standar praktik pengobatan.

Abad ke-17

Di Indonesia, pemanfaatan tanaman sebagai obat-obatan dan perawatan kesehatan juga telah berlangsung ratusan tahun yang lalu. 

Pada pertengahan abad ke-17 seorang botanikus bernama Jacobus Rontius (1592-1631) mengumumkan khasiat tumbuh-tumbuhan dalam bukunya De Indiae Untriusquere Naturali et Medica

Meskipun hanya 60 jenis tumbuh-tumbuhan yang diteliti, tetapi buku ini merupakan dasar dari penelitian tumbuh-tumbuhan obat oleh N.A. van Rheede tot Draakestein (1637-1691). Lalu  N.A. van Rheede tot Draakestein menulis penelitiannya dalam buku Hortus Indicus Malabaricus

Pada 1888 didirikan Chemis Pharmacologisch Laboratorium sebagai bagian dari Kebun Raya Bogor. Dengan tujuan menyelidiki bahan-bahan atau zat-zat yang terdapat dalam tumbuh-tumbuhan yang dapat digunakan untuk obat-obatan. 

Selanjutnya penelitian dan publikasi mengenai khasiat tanaman obat-obatan semakin berkembang. Hingga muncul istilah Fitofarmakologi. Yakni istilah yang digunakan untuk menjelaskan sebuah bidang studi terkait efek farmakologi dari tumbuhan. 

Istilah ini pertama kali digunakan oleh Ilmuwan Rusia David Macht pada tahun 1930-an untuk menjelaskan efek obat-obatan untuk digunakan pada tumbuhan. (bersambung)


Yosi Arbianto