Masuknya Pertanian Kolonial di Daerah Batu - Sejarah Daerah Batu Malang (12)

jalan raya punten tempo dulu

Potret jalan raya Punten Sidomulyo Kota Batu tempo dulu. Pemotret menghadap arah Barat Daya. Latar belakang menunjukkan areal pertanaman hortikultura. Tanaman perkebunan ada di dataran lebih tinggi. (Foto facebook: Kisah Kota Batu for BATUKITA.com)

BATUKITA.COM-Kota Batu - Kegiatan perkebunan di daerah (Kota) Batu Malang Jawa Timur tak bisa dilepaskan dari kehadiran orang-orang Belanda. Mereka datang dan bermukim di Batu setelah lebih dahulu memasuki Malang dalam bentuk VOC pada 1.767 masehi.

Bisa dikatakan, orang Belanda punya banyak peran dalam menciptakan daerah Batu sebagai wilayah perkebunan dan pertanian terkenal.

Oleh karena itu, data sejarah perkebunan di Batu bermanfaat untuk menyingkapkan awal masuk dan aktivitas pertama orang-orang Belanda di daerah Batu. 

Disadur dari Sejarah Daerah Batu, Rekonstruksi Sosio-Budaya Lintas Masa (2011) oleh Drs M Dwi Cahyono M.Hum, data tentang perkebunan Kota Batu amat terbatas. 

Data tertua yang berhasil diperoleh mengenai keberadaan perkebunan besar di daerah Batu berasal dari tahun 1812. Yakni telah adanya perkebunan kopi di Dinoyo dan Batu. Yang jika menilik tahunnya, berarti semasa dengan Penjajahan Inggris di Jawa (1811-1816). 

Apakah perkebunan kopi tersebut baru diusahakan pada tahun itu ataukah telah ada beberapa waktu sebelumnya? Hal itu belum diperoleh datanya secara pasti. 

Jika telah diusahakan sebelum tahun 1811, berarti rintisan usaha perkebunan kopi di daerah Batu telah dimulai oleh VOC sebelum imperialisme Inggris berlangsung.

Data tersebut berasal dari catatan perjalanan J.L Van Sevenhoven ke Jawa Timur (Aantekeningen Gehouden op eene reis over Java van Batavia naar de Ooshoek inde Jare 1812).

Di dalamnya antara lain memuat pengalamannya ketika melakukan perjalanan dari Malang menuju Ngantang lewat kebon kopi Naya (Dinoyo), desa Alu (Ngelo) dan Kaling (Sengkaling). Lantas ia menyeberang Sungai Brantas. 

Setelah melintasi candi (diyakini candi di Pendem yang ditemukan akhir 2019), sampailah di perkebunan Kopi Batu. 

Melalui Sanggariti (Songgoriti) dan Desa Rata (Ngroto, Pujon), lantas ke Gunung Dwarawati, dan akhirnya ke Ngantang (Tim Penelusur Cikal-bakal Batu, 2002: 34).

Nampaknya, areal perkebunan kopi Batu itu berada di utara Brantas. Sebab jika menyimak jalur yang ditempuh, dari Dinoyo dan Sengkaling perjalanan dilanjutkan ke arah Batu dengan menyeberangi Brantas.

Seberapa luas areal perkebunan yang ada? Hal ini juga belum didapat datanya. Namun, sebagai suatu usaha rintisan, boleh jadi masih belum seberapa luas. 

Areal Perkebunan Meluas setelah Sistem Tanam Paksa

Areal perkebunan kopi mengalami perluasan setelah pemberlakuan Sistem Tanam Paksa (Cultuur Stelsel). Sebuah sistem pertanian yang digagas oleh Johanes van Den Bosch pada tahun 1829 dan disetujui oleh Raja Belanda tahun 1830. 

Dalam gagasannya, setiap desa haruslah menyisihkan sebagian tanahnya untuk ditanami komoditi ekspor, khususnya kopi, tebu dan kina. 

Dalam sistem ini, pihak yang paling berpeluang mengambil untung adalah para elit desa dan pejabat berwewenang di atasnya. Juga para pedagang non-pribumi (Cina dan Arab), maupun pejabat pemerintah dan pedagang Eropa. 

Terlebih nanti setelah terbitnya Undang-Undang Agraria (Agrarische Wet) tahun 1870. Dengan peraturan ini, kawasan sekitar Lawang, Batu dan Turen hingga ke arah timur menjadi sentra perkebunan yang diusahakan oleh pengusaha partikelir Eropa (khususnya Belanda).

Pada daerah Batu, Sistem Tanam Paksa dan UU Agraria membuka perluang besar bagi para pengusaha Belanda dan Tionghoa untuk membuka areal-areal perkebunan baru. Baik di utara ataupun di selatan Brantas. 

Sub-kawasan di utara Brantas hingga Jurang Kwali berlahan subur dan mempunyai cukup banyak mata air serta dialiri oleh dua sungai besar (Brantas dan Kali Lanang). Ini menjadi lokasi pilihan bagi pembudidayaan tanaman perkebunan. Seperti kopi, teh, kina, kakao dan beragam tanaman hortikultura (salah satunya bunga). 

Kawasan ini juga dijadikan areal peternakan sapi oleh pengusaha peternakan warga Belanda bernama Van de Kley. 

Selain utara Brantas, sub-kawasan selatan Brantas, khususnya di Sisir dan Ngaglik juga menjadi areal perkebunan kopi. 

Dalam kaitan dengan produsen kopi, Batu turut menyumbang hasil perkebunan kopi berkualitas eksport. Selain kopi dari areal Malang timur atau Malang selatan. 

Hal ini serupa dengan penuturan Pii (warga Batu, 74 tahun) pada 2011 lalu. Bahwa pada akhir masa penjajahan Belanda, lereng Panderman, Embong Kembar (Jalan Sultan Agung), Stadion Brantas Batu hingga Kusuma Agrowisata adalah areal perkebunan kopi. 

Selain tanaman perkebunan yang banyak diperani oleh pengusaha partikelir Eropa dan Cina, bercocok tanam padi, palawija dan sayur maupun peternakan dan kerajinan terus diusahakan oleh warga pribumi. Ini sebagai kelanjutan dari tradisi yang telah berurat akar semenjak lama. 

Aktivitas perkebunan dan pertanian itulah yang memicu jumlah orang berkebangsaan Eropa dan Timur Asing yang bermukim permanen atau temporal di daerah Batu cukup banyak.

Meski hal ini tidak didapati datanya secara pasti dalam angka. Namun menurut salah seorang pejuang di Batu bernama Fakeh (lahir tahun 1920), pada tahun 1940-an jumlah orang Belanda di daerah Batu cukup banyak. 

Mereka terdiri dari pegawai pemerintah (abmtenar) Hindia Belanda, pengusaha pertanian dan peternakan. Lalu juru siar Kristiani dan partikelir lainnya. 

Gambaran demikian bisa juga dicermati pada keberadaan arsitektur bergaya Indis yang cukup banyak terdapat di daerah Batu dan berasal dari waktu yang berlainan. Utamanya terlihat di jalan-jalan utama pada sentra daerah Batu maupun jalan poros ke arah Sumber Brantas. 

Misalnya di Ngaglik, Sisir, Pesanggrahan, Songgokerto, Sidomulyo, Punten dan Tulungrejo. 

Daerah (kota) Batu pun menjadi lokasi yang diminati oleh orang-orang Belanda. (*)


Penulis: Ardi Nugroho 
Editor: Yosi Arbianto


Baca juga: