Sejarah Daerah Batu Malang (6): Raja Mpu Sindok Wariskan Candi Songgoriti

candi songgoriti

Candi Songgoriti yang berada di dalam areal pemandian air panas Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, Kota Batu kondisinya apa adanya.  Masih banyak puing yang belum tersusun seperti sediakala. (Foto: BATUKITA.com)

BATUKITA, Kota Batu  - Keistimewaan daerah Batu hasil penetapan Raja Mataram Kuno Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa dalam Prasasti Sangguran (924 Masehi), dijaga oleh penerusnya, Raja Mpu Sindok. Bahkan pada pertengahan abad ke-10 ini, Mpu Sindok yang juga menantu Raja Dyah Wawa diyakini membangun Candi Supo atau Candi Songgoriti.

Seperti diketahui, Raja Mataram Kuno sesudah Dyah Wawa adalah Mpu Sindok.  Kalau menilik prasasti Alasantan (Saka 861=939 Masehi), rentang pergantian penguasa ini kurang lebih 15 tahun.

Mpu Sindok yang memindahkan pusat kerajaan Mataram Kuno (Medang) dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Ia juga membangun istana Kerajaan Medang  baru di daerah Tamwlang, dan kemudian dipindahkan ke Watugaluh. Keduanya masuk wilayah Jawa Timur. Mpu Sindok mengaku bahwa Kerajaan Medang di Watugaluh adalah kelanjutan dari Kerajaan Medang di Bhumi Mataram.

Apakah Mpu Sindok membangun Candi Songgoriti mulai dari nol atau hanya meneruskan pembangunan candi Songgoriti yang telah ada sebelumnya? Mengingat jarak kekuasaan Dyah Wawa dan Mpu Sindok tak lebih dari 15 tahun? Detil ini masih kontroversi.

Suwardono, seorang Pengajar Jurusan Pendidikan Sejarah dan Sosiologi IKIP Budi Utomo Malang berpendapat Candi Songgoriti sudah ada pada abad IX, lebih dulu ada dibanding kekuasaan Mpu SIndok. Atas dasar bentuk bangunannya, juga beberapa bentuk tulisan pada inskripsi-inskripsi pendek yang ditemukan beserta peripih yang lain di dalam sumuran candi.

Namun banyak pihak, termasuk Dwi Cahyono dalam Sejarah Daerah Batu, Rekonstruksi Sosio-Budaya Lintas Masa (2011), berkeyakinan Candi Songgoriti ada pada masa pemerintahan Mpu Sindok.

Karena belum ditemukan candi lain, maka Candi Songgoriti ini sementara adalah candi tertua yang ditemukan di daerah Batu.

Menurut N.J Krom dalam Soekmono: Candi Fungsi dan Pengertiannya (1974:50), Candi Songgoriti adalah candi Hindu.

Ciri kehinduannya tampak pada relung-relung berisi arca dewa Hindu-Siwa. Misalnya Agastya, Ganesha, Durga Mahisasuramandini.

Disamping itu, menurut Boechari (1985), kehinduannya terlihat pada inskripsi pendek yang memuat nama-nama dewata Hindu: Sri Hana, Rudra, LIndamura, Brahma, Uma, Durgga Pralina dan Dewa Yahari.

Drs M Dwi Cahyono M.Hum dalam Sejarah Daerah Batu, Rekonstruksi Sosio-Budaya Lintas Masa (2011), menerangkan, Candi Songgoriti ditemukan dalam kondisi hancur.

Lalu oleh J.Knebel pada 1902 dilakukan inventarisasi. Setelah itu, pada tahun 1921 mulai dilakukan perbaikan. Namun pemugaran dan restorasi besar-besaran baru dilakukan pada 1936-1946. Candi yang ada saat ini merupakan hasil restorasi.

Terkait restorasi ini, wikipedia menulis ada kesalahan penyusunan struktur. Sehingga bentuk candi tidak seperti bangunan asli sebelum hancur. Karena kesalahan ini, penampakan candi tidak sempurna dan masih ada puing di sana-sini.

Dwi melanjutkan, ketika dilakukan pemugaran, ditemukan empat buah peti batu. Di dalamnya berisi yoni dari perunggu, lingga dari emas, mata uang serta kepingan emas yang memuat enkripsi pendek bertuliskan nama-nama dewata seperti tersebut di atas. Sayangnya Dwi tidak menyebutkan dimana kini artefak-artefak bernilai sejarah itu disimpan.

Dwi menerangkan, Candi Songgoriti adalah candi patirthan (kolam). Tingginya sekitar 2,4 meter. Diketemukan arca pancuran atau jaladwara dan fragmen kepala kala mirip seperti di Candi Gedongsongo, Bandungan, Semarang.

Parigi atau sumuran berada di bawah bilik utama (garbhagrha) tanpa penutup dan berisi air panas yang berasal dari mata air di dekatnya. Selanjutnya air dari sumuran itu dialirkan dengan saluran di bawah lantai ke deretan pancuran pada dinding (batur) candi. Air dari pancuran itu mengisi kolam (patirthan) yang mengelilingi candi.

Tentang fungsi Candi Songgoriti, diperkirakan adalah tempat upacara keagamaan bersifat Siwais. Lebih dari itu, menilik lokasinya di lembah lereng selatan Gunung Anjasmoro-lereng utara Gunung Kawi, dan di atas mata air panas yang mengandung belerang, diperkirakan candi patirthan ini juga berfungsi sebagai lokasi pengobatan berbagai penyakit.

Hingga saat ini sumber data tekstual tentang Candi Songgoriti masih minim. Bahkan Candi Songgoriti tak tercatat dalam buku Candi Indonesia Seri Jawa (2013) terbitan Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Yang banyak berkembang adalah mitos-mitos dan tradisi lisan (cerita) masyarakat seputar candi ini. Antara lain lokasi candi ini adalah tempat peristirahatan pada zaman Mpu Sindok. Nama Supo diambil dari Mpu Supo yang membangun candi atas perintah dari Mpu Sindok.

Ada pula tradisi lisan tentang mitos bahwa candi Songgoriti adalah lokasi romantis, betemunya Ken Arok dan Ken Dedes. Mitos ini berkembang tanpa ada rujukan data yang jelas.

Tradisi lisan lain adalah Candi Songgoriti merupakan tempat pembuatan keris alias pusat bermukim masyarakat pande. Candi Songgiriti diyakini lokasi yang disebut pada prasasti Sangguran sebagai Mananjung yang merupakan lokasi tempat ibadah khusus pada pande (prasadha kabhaktyan).

Tentang candi Songgoriti adalah lokasi pembuatan keris dan bahwa Songgoriti adalah tempat prasadha kabhaktyan ini pernah dikaji oleh Maria Ulfa, seorang mahasiswi jurusan sejarah Universitas Negeri Malang.

Kajian itu dituangkan dalam skripsi Pertimbangan Ekologis dalam Penempatan Situs Candi Songgoriti (2006).

Apakah kajian berdasarkan ekologis ini menguatkan hipotesa Songgoriti adalah Mananjung? Dwi Cahyono menyatakan tidak perlu tergesa untuk menyimpulkan itu. Sebab masih butuh banyak kajian untuk menetapkan candi Songgoriti adalah tempat ibadah khusus para pande seperti yang tetuang dalam prasasti Sangguran. (bersambung)

Penulis: Ardi Nugroho
Editor: Yosi Arbianto


Baca juga: